Pertanian

Demianus Inginkan Mamasa Jadi Penghasil Sayuran

demianus

Demianus Tarra

Mamasa, mandarnews.com – “Bekerja untuk hidup dan untuk akhirat” Demikianlah prinsip yang dipegang Demianus Tarra (42). Ia telah mengabdikan diri sebagai penggiat tani bidang holtikultura di Desa Mellangkena Padang, Kec. Sesenapadang, Kabupaten Mamasa Sulawesi Barat.

Ia mengajak dan memotivasi petani bercocok tanam kentang demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat tani. Seperti yang dilakukannya dalam diskusi di Warkop Dreams coffee di Kota Mamasa, Senin (4/9) malam.

Dalam diskusi ini, Demianus mengutarakan keyakinannya tentang Kabupaten Mamasa merupakan daerah yang sangat cocok menjadi penghasil sayuran. Hal itu dibuktikan oleh usaha kelompoknya yang berhasil menanam kentang hingga melakukan penjualan.

Tanaman Kentang yang ditekuninya dengan kelompok binaannya mampu memproduksi hingga 20 Ton walaupun masih dalam tahap panen perdana.

Berbekal pengalaman di Yayasan Mateppe saat di Malino ketika menjadi pendamping pemberdayaan masyarakat di bidang holtikultura maka menjadi modal besar untuk berbuat di Mellangkena Padang sejak Oktober 2016.

Menurut perhitungan Demianus, dari tiga ton bibit kentang yang ditanam kelompok SP harusnya mencapai 30 ton namun pengaruh cuaca dan kondisi tanah yang baru pertama kali di garap membuat hasilnya hanya 20 ton.  Jika dibandingkan modal yang mencapai Rp 40 juta kelompoknya tidak rugi karena menghasilkan sekitar Rp 160 juta.

Demianus mengatakan, bertani bukanlah sesuatu yang asing lagi namun disaat ini banyak pendapat yang menilai jenis pekerjaan tersebut bukanlah hal menarik dan tidak membawa kesejahteraan bahkan malu dikenal sebagai petani.

“Cara berpikir ini keliru sebab tanpa petani semua pekerjaan lainnya akan macet sebab petani adalah pilar pembangunan, pilar bangsa, bahkan pejuang pangan,” ungkapnya.

Menurutnya, bertani jika dikelola dengan benar dan serius akan memberikan hasil yang memuaskan. Justru kamandirian dalam ekonomi petani yang harus dicontoh jangan hanya tergantung ke anggaran negara. Yang paling miris, kata dia, banyak kelompok tani musiman aktif pada masa pembahasan anggaran aktif setelah itu tidak produktif lagi. Demianus merindukan Mamasa mandiri dalam produksi sayuran. (Hapri Nelpan)

Facebook Comments

Leave a Comment

Close
error: Content is protected !!