Opini

Sumpah Pemuda, ‘Kids Jaman Now’ dan Kurangnya Minat Baca

kids-jaman-now
  • Tulisan  : Muhammad Rusydy
  • Umur     : 17 tahun

Mandarnews.com – Setelah 89 tahun sumpah pemuda, kita menikmati jerih payah mereka yang terlibat saat itu. Tapi setelah sekian tahun, apa yang terjadi dengan pemuda khususnya, kids jaman now?

Kita tidak usah berpikir tentang masalah-masalah umum, krusial dan nasional. Cukup masalah kecil saja yang cukup fundamental terhadap perkembangan pemuda di masa depan, yaitu membaca.

Dulu sebelum Sumpah Pemuda diikrarkan, para pemuda berjuang dengan susah payah. Nah pada jaman now para pemuda akan berperang (bersaing) dengan negara lain menggunakan kecerdasan. Itulah kenapa membaca merupakan hal yang cukup fundamental.

Berapa banyak buku yang anda baca akhir-akhir ini? Atau buku apa saja deh yang selesai kita semua baca (untuk para pelajar) selain K13 (kurikulum 2013)? Jawabannya mungkin akan sangat berfariasi.

Entah data berikut akurat atau tidak, ada yang menyebutkan bahwa rata-rata kids jaman now ‘paling banyak membaca buku hanya lima judul per tahunnya’. Menurutku, tanpa susah-susah mensurvei, data tersebut terasa cukup benar. Apa lagi sudah masalah ini sudah kusindir di artikel opini sebelumnya.

Jika kita perhatikan kids jaman now ini lebih banyak menghabiskan waktu dengan smartphone dari pada buku dan lebih nyaman di spot-spot wifi daripada di perpustakaan. Makanya tak mengherankan jika banyak berita hoax yang viral dikarenakan kurangnya literasi buku dan literasi media.

Itu membuatku merasa kalimat “phone aja yang makin smart, orang enggak” tidak hanya sekedar guyonan para satir.
Setidaknya saya menemukan tiga alasan kenapa pemuda sekarang ini memiliki tingkat minat baca lebih rendah dari generasi sebelumnya.

Pertama, minat. Banyak orang bertanya pada om google bagaimana cara menumbuhkan minat baca. Tapi menurut Panji Pragiwaksono – seorang komedian stand up – (dan saya setuju dengan dia) bahwa pertanyaan itu salah. Harusnya pertanyaan kita itu “Bagaimana cara menumbuhkan minat?”. Karena dari minatlah kita bisa termotivasi mencari dan membaca informasi tentang sesuatu tersebut.

Seperti yang terjadi dengan salah satu muridku di Baca Bongi Tammangalle (programku bersama teman-teman). Pernah tidak kalian terpikir untuk membaca 14 buku saat kalian masih duduk di kelas 5 SD? Aku pun tidak. Sebelumnya aku hanya tahu kalau rata-rata siswa Baca Bongi Tammangalle senang dengan buku cerita, terutama cerita bergambar.

Makanya setiap mereka pulang aku selalu meminjamkan mereka buku yang sekiranya menarik untuk mereka baca. Kemudian tanpa kusangka salah satu dari mereka mengaku telah membaca 14 buku dalam beberapa bulan terakhir.

Kedua, perpustakaan. Ada ratusan sekolah di seluruh Sulawesi Barat dan semuanya (mulai SD, SMP, SMA dan setingkat serta perguruan tinggi) memiliki perpustakaan sendiri. Setidaknya setiap Kabupaten memiliki perpustakaan daerah mereka sendiri. Tapi dengan banyaknya perpustakaan yang ada, berapa banyak siswa/mahasiswa yang ke perpustakaan (secara ikhlas, tanpa disuruh guru)?

Pada faktor kedua ini masalahnya bukan pada siswanya, tapi pada perpustakaan. Jika kita tanya jam berapa perpustakaan-perpustakaan ini tutup, tanpa pikir panjang kita bisa langsung menjawab “karena yang jaga PNS, jadi tutupnya pukul 16.00”.

Masalahnya pelajar sekolah pulangnya jam berapa? Mahasiswa pulangnya jam berapa? pukul 16.00. Jadi kapan mereka ketemu perpustakaan?

Ketiga, K13. Aku bukan ahli pendidikan atau seorang guru, tapi aku adalah subjek utama pendidikan -siswa-. Semenjak K13 diterapkan, kurikulum berubah dan cara mengajar pun berubah. Guru masuk ke kelas, sedikit mengajar kemudian memberi tugas lalu menyuruh siswa mencari sendiri jawabannya.

Terlihat seperti konsep yang lebih maju dari KTSP bukan? Tapi ada yang keliru, siswa jarang diberikan buku pegangan dan perpustakaan tidak memiliki buku yang cukup untuk menemukan jawaban, karena kebanyakan buku di perpustakaan hanya buku paket mata pelajaran.

Sehingga siswa tidak memiliki sumber yang beragam kemudian mengandalkan internet. Hasilnya, siswa menjadi terlalu mengagungkan internet. Apa apa serba internet. Tidak ada yang tertarik menjadikan buku sebagai alat mencari jawaban.

Padahal tidak seperti buku, orang bego pun bisa juga menulis di internet. Seperti saat sesi tanya jawab di tugas presentasi per kelompok, misalnya. Saat ada teman yang bertanya, para siswa tidak menganalisis pertanyaan tersebut.

Malah langsung menuliskan pertanyaan tersebut secara mentah-mentah ke om google. Itulah faktor-faktor yang menurutku menurunkan kualitas intelektual pemuda khususnya kids jaman now. Tapi aku memiliki beberapa saran dari masalah-masalah tersebut.

Pertama, perpustakaan harus menjadi tempat orang-orang berdiskusi mencari kebenaran. Perpustakaan harusnya lebih dari gudang penyimpanan buku, sebuah majelis ilmu. Caranya dengan mengiatkan diskusi-diskusi tentang isu terhangat saat ini.

Kemudian selama diskusi dijejerkan buku-buku tentang isu tersebut. Sehingga orang-orang tertarik untuk berdiskusi lebih lanjut setelah acara berakhir dengan memegang referensi yang akurat, membaca buku.

Kedua, sudah total penampilan perpustakaan. Dipikiran para siswa, perpustakaan adalah gudang buku dan tempat orang saat jam istirahat pelajaran. Karena itu saya sarankan untuk membuat dekorasi perpustakaan semenarik mungkin, seperti yang sudah lama dilakukan orang-orang barat.

Sehingga perpustakaan tidak sekedar tempat membaca buku, tetapi juga tempat menikmati keindahan seni arsitektur.
Ketiga, perpanjang waktu perpustakaan buka. Seperti yang sudah saya singgung, tidak ada waktu dimana siswa bisa bertemu dengan perpus.

Sehingga saya menyarankan untuk memperpanjang jam operasional perpus dan tentunya harus disertai dengan pemberian tunjangan yang sepadan pada penjaga perpus.
Terakhir, jadikan baca buku sebagai pekerjaan rumah. Bukan bermaksud mengajari, tapi saya sangat menyarankan teknik ini pada guru-guru SD/MI.

Sehingga siswa SD pulang dari sekolah tidak lagi membawa pekerjaan rumah induksi matematika, fisika, kimia, biologi, integral, atau reaksi redoks, tapi buku bacaan yang menyenangkan. Diharapkan dengan cara ini, mereka akan menjadi pemuda yang lebih terbiasa memegang buku dari pada gawai (gadget).

Jujur, karena teknik ini kami di Baca Bongi Tammangalle dan Baca Bongi Leppe kewalahan menyediakan buku yang menarik pada anak-anak. Kadang mereka komplain pada kami karena semua buku kami sudah mereka baca. Tapi kurasa ini juga sangat bermanfaat jika diterapakan pada tingkat SMA.
Mungkin cukup itu opini saya tentang pemuda jaman now.

Semangat Sumpah Pemuda takkan pernah pudar! (***)

Facebook Comments

Leave a Comment

Close
error: Content is protected !!