Olahraga

Achmadi, Petarung One Pride MMA tvOne dari Majene

achmadi-petarung-one-pride-mma-tvone-dari-majene

Sang Petarung. Achmadi (tengah), petarung dari Kabupaten Majene, Sulawesi Barat (Sulbar) menang TKO di One Pride MMA tvOne di Jakarta. Foto : Facebook.

Mandarnews.com – Prestasi kembali ditorehkan pemuda asal Kabupaten Majene, Sulawesi Barat (Sulbar). Bisa dikatakan, prestasi ini adalah sesuatu hal yang langka.

Adalah Achmadi (27 tahun), pendatang baru kelas Welterweight (berat) dengan berat 77 kg di One Pride Mixed Martial Arts (MMA) yang ditayangkan tvOne setiap Sabtu malam. Ia tinggal dulunya tinggal di Jalan Kanjuha Pakkola, Kelurahan Banggae, Kecamatan Banggae.

Olahraga ini merupakan seni bela diri yang memadukan berbagai teknik pertarungan, seperti pergumulan, tendangan, dan pukulan. Sabtu 2 Desember 2017 pekan lalu, Achmadi pertama kalinya main di One Pride MMA setelah melalui proses seleksi.

Pada kesempatan perdana itu, Achmadi yang mewakili Arkan Camp dari Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim) melawan I Putu Sudiarta dari Bali. Achmadi yang merupakan atlet Muay Thai Kaltim ini berada disudut biru sebagai penantang.

Achmadi mengatakan, saat hendak masuk ring ia mengucapkan Assalamualaikum. Dalam ring, ia bangga bisa bertanding di ring One Pride MMA. Saat berhadapan dengan lawan, Achmadi sempat teringat pepatah dari Mandar.

“Takkalai di sobalang, Dotai lele ruppu, Dadi nalele,Tuali di labuang”

“Sekali bahtera layar terkembang, Karam dan hancur tak kuhiraukan, Asal tidak gempar terseriar, Balik surut ke pangkalan semula,” – sumber terjemahan : kampung-mandar.web.id

Pepatah itu menambah semangat Achmadi saat melawan I Putu Sudiarta. Saat mulai bertarung, duel Achmadi dan I Putu Sudiarta pun terjadi. Keduanya beradu pukulan sebelum akhirnya Achmadi menang A technical knockout (TKO) pada ronde pertama saat waktu menunjukkan 1 menit 15 detik.

“Saya baru tinju satu kali, langsung dia tinju balik dua kali. Melawan ini orang, pas saya dipeluk, langsung saya banting. Langsung kutinju wajahnya terus menerus. Wasit langsung hentikan permainan karena dia (I Putu Sudiarta) sudah tidak mampu dan saya menang TKO,” kata Achmadi via telepon, Kamis 14 Desember 2017 sore.

achmadi-petarung-one-pride-mma-tvone-dari-majene-1

Achmadi pun berhak menerima hadiah uang tunai sebanyak Rp 7 juta. Rinciannya, uang kontrak main Rp 2,5 juta, hadiah menang Rp 2,5 juta dan hadiah menang TKO Rp 2 juta. Kini ia memiliki nama di One Pride MMA, baru pertama kali main dan langsung menang TKO.

Achmadi juga sementara menunggu jadwal tarung selanjutnya. Ia bertekad untuk sukses di dunia bela diri. Kata Achmadi, jika bisa menang sampai empat kali, ia bisa menantang juara bertahan di kelas Welterweight.

Achmadi, dari Pemain Basket Hingga Petarung MMA

Sejak remaja, Achmadi adalah seorang atlet basket. Dulu bermain di tim Angkasa Muda Majene. Tahun 2009, ia hijrah ke Samarinda menyusul kedua orang tuanya, Usman dan Warni yang tinggal sejak dulu disana. Jadi pemain basket, Achmadi sempat jadi pemain tim basket Samarinda di kancah nasional.

Umur untuk jadi pemain basket pun sudah tidak memungkinkan. Ia pun sempat jadi atlet tinju hingga berkenalan dengan seorang pelatih bela diri, Muay Thai. Saat itu, ia mulai berlatih jadi atlet bela diri olahraga asal Thailand itu.

Achmadi sempat juara I pada tahun 2014 saat bertanding pada Pekan Olahraga Provinsi (Poprov) Kaltim. Berselang waktu, ia pun mencoba peruntungan jadi petarung di One Pride MMA. Meski sempat gagal seleksi karena sesuatu hal, Achmadi tidak gentar. Setelah mengirim video sebagai syarat, ia pun diterima dan menang pada debut pertamanya di One Pride MMA.

Putra Asli Majene tapi Lahir di Samarinda

Achmadi lahir di Samarinda 27 tahun lalu. Ayahnya, Usman adalah warga Pakkola, sementara ibunya, warni dari Sulawesi Tengah (Sulteng).

Umur lima tahun, ia dikirim ke Majene dan tinggal bersama kakeknya, almarhum Silang yang merupakan mantan Kepala SDN 1 Saleppa.

Achmadi sekolah di SDN 1np 24 Saleppa. Memasuki sekolah menengah pertama, ia sempat sekolah di SMPN 2 Majene sebelum akhirnya pindah dan lulus di SMPN 4 Majene. Lalu, ia sekolah di SMAN 3 Majene dan lulus tahun 2008. Setahun kemudian, ia kembali ke Samarinda, tempat kedua orang tuanya bekerja. (Irwan Fals)

Facebook Comments

Leave a Comment

Close