Opini

Cerita Jaring Nelayan Menyapa Pagiku

Sayang …………..

Sedikit aku ingin bercerita dengan kampung halamanku, sebuah tempat dimana aku dilahirkan di bumi pertiwi. Dimana tuhan meniupkan ruh dalam jazadku dengan rintihan air mata membajiri tubuhku sembari darah mengalir disetiap nadiku.

Aku melihat berbagai macam sketsa wajah dengan senyum penuh kebahagiaan. Perlahan terdengar lantunan suara nan indah dibagian kanan telingaku. Kecupan demi kecupan kurasakan dari bibir pucat penuh keringat di pipiku.

Sebuah tempat yang mengajarkan teori kehidupan melalui percikan ombak, jaring-jaring bergelantungan yang sudah tak baru lagi, dengan nada tangga kicauan burung burung dipagi hari. Kampung halamanku adalah tempat yang sangat indah, pandai menjaring benih benih kerinduan, deretan jaring dan kapal nelayan menghiasi indahnya pesisir pantai kampung halamanku.

Disana aku melihat sesuatu yang menakjubkan dikala senja menyapa pemandangan yang exotik bagi jiwaku. Meraba keindahan semburan merah yang terhampar tepat diatas kaki laut dan terlihat pula yang asyik mengukir diri diatas genangan ombak dengan kapalnya sembari memainkan jaringnya.

Tak hanya itu di sana aku menyaksikan kemesraan desiran ombak dengan terumbu karang membuat jiwa menjadi tenang ketika melihatnya. Apalagi ketika kubenamkan kedua kakiku di pantai, kepiting kepiting kecil mulai mendekat dan menggigitnya berulangkali. Ternyata masih ada mahluk mungil ini ohhhh kampungku…

Tapi seketika langit berubah menjadi gelap, angin dari ufuk tak hentinya menerjang pelataran pantai. Ombak yang semakin geram mengharuskan mereka harus menarik jaring, menancapkan layar kapal dan berlomba menuju bibir pantai.

Tak ada hasil yang di dapat. Jaring jaring kosong tak dihiasi ikan ikan mungil, terlebih mereka harus mengembalikan kapal kepada pemiliknya. Keluarga yang setia menunggu dengan penuh harapan agar dapat makan sesuap nasi, anak yang harus membeli perlengkapan sekolah kini telah pupus.

Berhari hari bahkan berbulan bulan ombak tak kunjung menampakkan senyumnya. Dia semakin geram. Sejak itu pula mereka harus mengutang pada tetangga untuk memenuhi kebutuhan hidup. Yang setia bangun diperpecahan subuh, mengukir jaring jaring dan siap untuk berlayar berkorban nyawa demi hidup yang lebih baik.

Ditengah tengah desiran ombak, masih terlihat pula kapal-kapal kecil lengkap dengan jaringnya. Mengingatkanku pada sketsa wajah ibu yang setiap menjelang sore geram dan khawatir mencari ku kemana mana.

Sementara aku sibuk bermain dengan teman, tertawa bersama, pakaian yang dipakai yang sudah basah kuyup, sembari teriak di atas kapal kecil lalu ku pasang jaring di atas laut. Mata tak berpaling ingin melihat ikan ikan kecil memaksa melarikan diri ketika terperangkap dalam jaring jaring ini. Hmmm … betapa geramnya ibu saat itu, bahkan saat perjalanan pulangpun, ia masih menyisipkan rasa marahnya disela-sela bibir senyum.

Pada ritual keheningan kampungku, suari desiran ombak terdengar melankolis dari biasanya, setiap hempasannya kebibir pantai menjelma menjadi mantra kesunyian. Tak ada lagi bunyi gesekan batu yang dipakai kapal untuk tetap tenang di atas ombak, tak ada lagi cahaya remang dibilik kapal.

Yang ada hanya hamparan kosong kegelapan. Aku mulai bediri di atas labirin pemikiranku berkumpul melawan suasana itu, lalu kemudian melabelinya percikan subuh yang sunyi.

Sayang …..

Begitulah suasana kampungku kala itu

Indah kan ?

Saat itu aku masih menjadi sosok bocah ingusan yang hanya paham bahwa ketika sore tiba aku masih saja bermain dipinggir pantai mengumpulkan karang dan menyulapnya menjadi sebuah kalung. Saat aku beranjak jadi pemuda dewasa.

Pikiran mengajakku bercumbu, seolah-olah lupa akan diri sendiri, karena keadaan yang sangat tidak baik di luar sana jauh lebih menguasai pikiran dan naluriku.

Di kota nan istimewa ini membuat keheningan itu semakin nyata dalam kehidupanku, setiap menjelang subuh aku berbicara dengan diriku sendiri. Perasaan yang kian heran menghampiri melihat yang nampak dari pesisir tentang ketidak seimbangan antara masyarakat pesisir dengan masyarakat elit, ketimpangan hak dijepit tangan tangan penuh noda.

Padahal dialog para panglima pemuda tentang melawan ketidakadilan membela kaum kaum tertindas tak pernah usai. Yang ada hanya terbentur pada diskusi diskusi di warung kopi dan tak juga menemukan jalan keluarnya.

Sayang …..

Ini sangat mengherankan bukan ?

Bahkan mampu menghipnotis kesadaranku, yang tak dapat berbuat apa-apa. Kalau seperti ini ingin sekali rasanya kembali kemasa kecil dulu, yang ketika sore bermain di pesisir pantai sedang ibu membekali sepotong pisang goreng yang panas dan masih lengkap dengan daunnya. (***)

Penulis  : St. Muthmainnah Syamsu, UST Yogyakarta/ psikologi, Somba,  Kabupaten Majene, Sulawesi Barat (Sulbar).

Facebook Comments

Leave a Comment

Close