Opini

Generasi XYZ, dan Pemilu 2019

Oleh Adi Arwan Alimin, Komisioner KPU Provinsi Sulbar

Mandarnews.com – Pemilu 2019 akan menjadi masa transisi penting. Perkembangan teknologi yang mengubah gaya dan pola hidup warga dunia telah merentang lanskap menentukan bagi kontestasi tahun depan.

Tidak hanya karena tahun 2018 ini tengah berlangsung Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2018 di 50 persen lebih lumbung suara, namun karakter pemilih pun sedang menemukan momentum yang amat berbeda.

Tentang generasi X, Y, Z yang penulis nukil dari beberapa bahan bacaan, sesungguhnya melempangkan sebuah pertanyaan kepada pembaca. Anda berada di mana, jika generasi X itu adalah mereka yang lahir era tahun 1960-1970-an, atau generasi Y yang lahir akhir 1970-an hingga medio 1980-an. Pun generasi Z yang mengeak ke bumi pada masa 1990-an sampai setelah 2000. Dalam skala umur ini, pembaca bertaut di periode manakah?

Meski terdapat sejumlah patokan mengenai klasifikasi tahun kelahiran X,Y, dan Z. Telegraph misalnya, menyebut Gen X mereka yang lahir tahun 1960-1980, Y lahir antara tahun 1980-2000, lalu Z melewati tahun 2000.

Sementara perusahaan riset marketing, William Schroer Principal membuat klasifikasi berbeda. Gen X lahir periode 1966-1976, Y lahir diantara 1977-1994, dan Z pada tahun 1995-2012. (Marketeers, May 2018).

Marketeers sendiri melansir klasifikasi Gen X sebagai generasi kelahiran 1961-1983. Atau yang dikenal juga MTV Generation yang saat ini berusia 35-57 tahun. Sedang Gen Y atau millennials/echo boomers mereka yang lahir antara tahun 1984-1996, sementara generasi Z lahir pada rentang 1997-2015. Yang terakhir ini dikenal sebagai Post-Millennials/Homeland Generation atau iGen juga Centennials. Usia Gen Z, 3 sampai 21 tahun.

Paparan teori ini mengembangkan gagasan kita tentang periodesasi yang dapat saja disetujui atau tidak dianggap penting bagi sebagian yang lain, namun kelompok umur itu telah mengubah segalanya.

Jaman Now dengan Generasi Now merupakan fenomena di mana mereka menjadi bagian dari kemajuan teknologi. Tiga kelompok usia itu menghabiskan lebih banyak kesempatan mereka di smartphone, membaca, liburan atau bahkan hal paling update sekalipun.

Lalu apa hubungannya dengan tahun politik 2018 atau 2019? Yang pasti peserta Pemilu dan penyelenggara Pemilu harus dapat menilik skala lebih utama dari kepentingan Gen X, Y, dan Z, yang tentu paling pas agar seluruh tahapan panjang kontestasi politik ke depan lebih asyik digagas, dan menarik digarap.

Sebagian besar umur penyelenggara dan peserta Pemilu tentu bagian dari Gen X, yang kabarnya lebih mapan dan memiliki kantong tebal. Sedang Y memiliki keunggulan besar karena merupakan ceruk potensi suara paling besar.

Dan, generasi Z akan menjadi pemilih potensial pada Pemilu selanjutnya. Siapakah yang akan paling mudah disasar atau dididik sebagai pemilih cerdas dan akan dimobilisasi ke bilik suara pada hari H nanti, amat tergantung dari cara kita mengenali karakter setiap kelompok umur ini.

Lihatlah hasil survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia dalam dua variabel mengenai penetrasi dan perilaku pengguna internet Indonesia tahun 2017 (ibid). Penetrasi pengguna internet berdasar usia: 13-18 tahun
menempati 75,50 persen; 19-34 tahun sebanyak 74, 23 persen; 35-54 tertera 44,06 persen; sedang usia 54 tahun ke atas hanya sekitar 15,72 persen.

Usia 18-34 dalam sistem data pemilih merupakan elemen pemilih mula dan muda, data tersebut menunjukkan akses usia ini sangat besar pada teknologi.

Bandingkan untuk komposisi berdasar usia pengguna internet di Indonesia yang berjumlah 132,7 juta orang. Usia 54 tahun hanya sebanyak 4,24 persen; usia 35-54 tahun sebanyak 29,55 persen; usia 19-34 tahun sebesar 49,52; lalu usia 13-18 tahun sebanyak 16,68 persen.

Frame ini telah dapat dijadikan sebagai margin yang bagus dalam merumuskan strategi dan pendekatan yang tepat bagi calon pemilih dengan penguatan program berbasis teknologi.

Saat ini transisi pergeseran gaya dan kebiasaan pemilih dari media konvensional ke digital. Sebuah orde di mana tata cara dan metode sosialisasi pemilih bagi penyelenggara, dan pendidikan politik untuk peserta Pemilu memerlukan adaptasi yang juga tak kalah cepatnya. Beradaptasilah, kata Tanri Abeng, sejak beberapa tahun lalu.

Edukasi digital pada konteks program kepemiluan akan membuat pemilih makin memiliki cara berbeda dalam memilih. Era monolog pun berangsur tenggelam dalam cara berinteraksi baik personal maupun dalam berkomunitas. Inilah dunia yang terus berubah, pilihannya ada di jemari pembaca. Walau pada beberapa aspek, pola tradisional (mungkin) masih akan dapat dipaduserasi di bagian lain secara optimal.

Dahulu kita mungkin pernah menganggap kotak ajaib televisi menjadi satu-satu sumber informasi dan komunikasi paling cepat, setelah radio. Tetapi kini, dalam perjalanan tahun politik bangsa kita yang penuh spektrum warna, cara memandang pemilih potensial tak lagi cukup searah. Namun makin kaya sudut pandang. Dialog pun terasa makin penting dalam kemajuan interaksi sosial yang mutakhir.

Bagaimana? Anda bagian dari kelompok umur, dan kepentingan yang mana dalam gagasan singkat ini. Generasi milenial akan segera menjadi mayoritas pemilih, dan kelompok penting pengambil keputusan. Ini memerlukan resonansi yang nyata, ujar Chico Hakim, pegiat media sosial di acara Rosi KompasTV. (*)

GA642, 10 Mei 2018

Facebook Comments

Leave a Comment

Close