Laporan

Ketika Sawit Pasang Surut, Gilang Tekuni Buah Naga

Gilang mempertunjukkan cara penyerbukan dengan bantuan manusia terhadap tanaman Buah Naga

Penulis : Hapri Nelpan

Penulis : Hapri Nelpan

Mateng, mandarnews.com – Banyak membuang waktu dan menerima harga jual yang pasang-surut adalah resiko petani kelapa sawit. Hal itu paling tidak dialami Gilang Hakim, petani di Tobadak Mateng. Karena kondisi pasang surut itu, dirinya lebih memilih tanaman buah naga dan pepaya kalifornia untuk ditekuni.

Hamparan tanah datar sekitar 1 hektar dengan tumbuhan buah naga yang dipanel dengan tanaman pepaya kalifornia tepat berada di depan rumah penginapan Kontingen Klasis Sindagamanik III sempat mencuri perhatian kami. Lantaran jenis tanaman tersebut juga memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi jika dikembangkan.

Matahari mulai tampak di balik gunung saat kami masih menikmati suasana pagi ditemani segelas kopi dan perbincangan ringan. Disela-sela cerita tampak dua pengendara motor memasuki kebun tersebut lalu melakukan pembersihan lahan sehingga kami simpulkan dia adalah pemilik kebun.

Rasa penasaran terus bertambah sehingga langkah kaki lekas kuayun dan ke lahan itu dan menghampiri pemilik kebun yang akrab disapa Mas Gilang. Usai perkenalan, perbincangan tentang buah naga dan pepaya kalifornia dimulai sembari dia membersihkan beberapa tanaman liar yang hidup di sekitar pohon buah naga.

Gilang Hakim berpendapat, tanaman kelapa sawit juga cukup menjanjikan namun petani banyak membuang waktu sebab panen hanya bisa dilakukan sekali dalam 10 hari. Hal itu otomatis merugikan waktu petani ditambah lagi harganya yang tidak menetap, harga paling tinggi Rp 1.500/kg dan harga rata-rata Rp 1.200 – 1.300.- Untuk sekarang menurun drastis hingga Rp 1.080.

“Saya lebih memilih tanaman buah naga dan pepaya kalifornia karena selain menjanjikan, juga tidak ada waktu yang terbuang bahkan harganya cukup memuaskan,” ungkap Gilang Hakim warga Desa Tobadak 1, Kecamatan Tobadak, Kabupaten Mamuju Tengah (Mateng).

Panen perdana buah naga milik Gilang mulai dirasakan dan telah mencapai 5 kilogram dengan harga ke pengepul Rp 14.000/kg dan kemudian dipasarkan hingga Rp20.000 – Rp25.000 perkilogram. Dalam 1 kilo membutuhkan 2-3 biji buah naga.

Sesuai pengalaman Gilang, jenis tanaman tersebut mulai berproduksi umur delapan bulan. Awalnya Gilang memperoleh bibit buah naga dari rekannya di Tobadak. Katanya, bibit tersebut  dari Jawa timur tepatnya di Banyuwangi.  Adapun jumlah buah naga yang sementara dikembangkan mencapai  800 pohon. Jika semuanya telah berproduksi diperkirakan mampu mencapai 1,5 ton.

Gilang juga mengembangkan pepaya kalifornia sebanyak 300 pohon disela-sela tanaman buah naga dengan pertimbangan tanaman tersebut mampu membantu membiayai perawatan dan pemeliharaan buah naga hingga berproduksi.  Panen perdana pepaya miliknya mampu mencapai dua kwintal kemudian panen kedua empat kwintal dengan harga perkilogram Rp 4.000.

Pemasaran buah naga menurut Gilang, sangatlah mudah. Untuk  kebutuhan perminggu  di wilayah Mamuju saja sekitar 1 ton. Jumlah itu belum mampu dipenuhi ditambah lagi permintaan dari luar Provinsi Sulbar.

Tanaman tersebut selain dipercaya mampu mengobati beberapa penyakit seperti tekanan darah rendah dan beberapa penyakit lainnya, jenis buah tersebut sangat tahan untuk dibawa dalam jarak jauh dan sangat disukai orang jika diolah dalam bentuk jus, kue serta beberapa olahan lainnya.

Tantangan pemeliharaan buah naga, menurut Gilang, memang butuh perlakuan khusus terutama musim bunga karena membutuhkan bantuan penyerbukan secara manual lantaran jumlah buah yang banyak otomatis sulit jika hanya mengandalkan serangga.

Proses mekar bunga hanya dari Pukul 19.00-06.00 Wita. Jika diluar jam ini bunganya kembali kuncup sehingga cukup rumit untuk membantu penyerbukan. Jenis pohon yang lebih bagus untuk tempat merambat buah naga adalah pohon kapas sebab perakaran bagus dan ada nilai ekonomisnya juga ada.(*)

Facebook Comments

Leave a Comment

Close
%d bloggers like this: