News Sosial Ekobis

Ketika Tanah Mulai Bertuan, Ekonomi Tani Bukan Polemik

Suasana Pelatihan sejumlah KTH Desa Buntubuda

Mamasa, mandarnews.com – Memastikan setiap tanah milik petani yang tadinya sebagai lahan tidur menjadi tergaraf. Demikian motivasi Kepala Desa Buntubuda, Johanes Kurniawan (30) terhadap sejumlah masyarakatnya demi membangun kemandirian ekonomi.

Rumah yang berderet disekitar bukit tepat berada di sebelah utara pusat Kota Mamasa dan berbatasan langsung dengan Kelurahan Mamasa. Begitulah suasana Desa Buntubuda, Kecamatan Mamasa, Kabupaten Mamasa.

Memiliki letak geografis dimana di sebelah Utara Berbatasan Desa Mambulilling, sebelah Timur berbatasan Desa Rambusaratu dan Desa Tandokbakaru, di sebelah Barat berbatasan Desa Nekke’ kemudian sebelah Selatan berbatasan Kelurahan Mamasa mambuat posisi Buntubuda sebagai pusaran roda perekonomian jika ditata dengan baik.

Johanes yang akrab disapa Hans, menyadari sejumlah potensi desa yang dimilikinya sehingga selain membangun fokus pembangunan pada sisi infrastruktur juga menggenjot kemajuan di sektor pertanian guna tercapainya kemandirian ekonomi masyarakat tani di Buntubuda.

Selain suntikan Dana Desa (DD) untuk pengadaan bibit dan pupuk, melakukan pelatihan, membawa sejumlah perwakilan kelompok tani untuk mengikuti studi banding ke Malino khususnya pada tanaman holtikultura bahkan meminta bantuan pendampingan dari tenaga profesional seperti, Demianus Tarra (Perintis Sahabat Petani). Merupakan metode Kades Buntubuda dalam membangun kesadaran petani.

Bermodalkan ilmu pengetahuan yang diterima saat di UNM hingga memperoleh gelar sarjana (Strata 1) kemudian melanjutkan S2 di UKIP Makassar menjadi dasar utamanya dalam memulai pengabdian diri di kampung halamannya didampingi
isterinya, Marlianty Sondokoro Langi, S.Kep.Ns (29) dan anaknya, Davin (1 Tahun).

Mengurangi lahan terlantar kemudian digarap atau dipastikan telah memiliki tuan merupakan prinsip utama bagi Hans agar sektor pertanian semakin produktif dan menambah sumber-sumber penghasilan petani.

Dengan membina Kelompok Tani Holtikultura (KTH) yang dibentuk sejak 2017 lalu yakni KTH Buntubuda, KTH Lope dan KTH Kalimbuang dinyakini mampu memberikan dampak positif bagi petani jika menekuni budidaya tanaman kentang.

Hans saat diwawancarai di Kantornya, Selasa (24/7) berpendapat, pembangunan ekonomi masyarakat memang membutuhkan pengorbanan guna memastikan program berjalan maksimal bahkan jika beberapa kegiatan tidak dianggarkan.

“Kita harus berani korban, kalau perlu Gaji dan Tunjangan digunakan untuk membiayai kegiatan. Saat kami ke Malino tidak memiliki dana maka sebagai penanggung jawab harus korban kendati gaji selama tiga bulan harus dipakai kesana,” ujarnya sambil tersenyum.

Menurut Pantauannya, lahan yang telah tergaraf atau siap ditanami telah mencapai tujuh hektar dari tiga kelompok yang dibina dan dipastikan akan terus bertambah.

Pemerintah Desa Buntubuda juga telah membangun koordinasi dengan Bank Pembangunan Daerah (BDP) jika ada petani yang ingin menambah pemodalan juga akan akan difasilitasi pengurusannya. Prinsipnya, semua yang dilakukan demi kelancaran dan keberhasilan program sebab jika masyarakat tani maju ekonominya maka Desa Buntubuda juga akan semakin baik.

Sementara Anggota KTH Lope, Markus saat ditemui di Buntubuda juga berpendapat, masyarakat sangat merespon upaya pemerintah desa dalam mendukung kemajuan ekonomi petani.

“Masyarakat juga mulai paham dan merespon positif bahwa tanaman holtikultura juga mampu meningkatkan taraf hidup petani apalagi didampingi tenaga profesional seperti Demianus Tarra,” ungkapnya.

Kata Markus, sejumlah petani sangat termotivasi dengan program yang ada sehingga masyarakat melakukan budaya gotong royong untuk saling membantu dalam membuka lahan-lahan yang selama ini tidak digarap.(Hapri Nelpan)

Facebook Comments

Leave a Comment

Close