Opini

Kontestasi Pilkada, Untuk Apa?

PILKADA
PILKADA

Penulis : SANTA, S. IP Umur : 29 tahun Jabatan : Ketua DPD Garda Muda Kabupaten Mamuju

Sebagai sebuah negara yang menganut paham demokrasi, maka konsekuensi logisnya akan ada pembatasan kekuasaan dalam negara. Indonesia salah satu negara yang manganut paham tersebut.

Dalam negara demokrasi, periodesasi kepemimpinan selalu berjalan dan pasca orde baru seluruh kekuasaan di legislatif dan eksekutif secara gamblang diatur dalam UUD 1945 yaitu untuk satu masa periode berlaku hanya untuk 5 tahun saja.

Demokrasi jika ditinjau dari akar katanya berasal dari kata Demos dan Kratos yang artinya Kekuasaan/kedaulatan Rakyat. Dalam defenisi umumnya, Demokrasi adalah pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat.

Konsekuensi dari kedaulatan rakyat yang harus dijunjung oleh negara, dipraktikkan dengan melaksanakan pesta demokrasi secara berkala. Demokrasi berkala yang dimaksud adalah adanya pemilihan pada setiap level kekuasaan jika periode kekuasaan itu telah cukup lima tahun.

Hal tersebut melahirkan kontestasi calon-calon pemimpin disetiap level kekuasaan negara. Mulai dari presiden dan wakilnya, Gubernur dan wakilnya, Bupati/Walikota dan wakilnya.

Di dalam negara kesatuan republik indonesia menganut asas pemeeintahan otonomi daerah. Yaitu adanya penyerahan kewenangan pemerintahan dari pusat kepada daerah, termasuk kewenangan memilih dan menetapkan kepala daerahnya.

Pada tahun tanggal 23 September 2020, Indonesia akan kembali melaksnakan Pemilihan Kepala Daerah secara serentak di kurang lebih 200 Daerah. Mamuju adalah salah satunya. Tentu membawa suasana tersendiri dilevel daerah masing-masing.

Meski terjadi kontestasi diantara calon bupati dan wakilnya, serta para relawan calon, tentu kita harus selalu mengedepankan politil gagasan, politik yang berbudaya, politik yang menjamin kebebasan hak-hak politik warga, dan politik yang dapat membangun karakter berdemokrasi di daerah kita, tidak sebaliknya yaitu politik saling menjatuhkan, politik saling curiga, politik yang tidak berbudaya.

Karena itu mari membawa suasana politik dengan riang gembira bersama rakyat karena sejatinya demokrasi dari, oleh, dan untuk rakyat.
Wallahu a’lam bissawwab.

Facebook Comments

Leave a Comment

Close
%d bloggers like this: