Suasana jamaah salat Id saat pembacaan khutbah Idul Adha 10 Zulhijjah 1446 H/ 6 Juni 2025 M di Stadion Prasamya Mandar Majene.
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته. الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، والحمد لله كثيرًا، وسبحان الله بكرةً ومساءً. لا إله إلا الله، والله أكبر، الله أكبر، ولله الحمد. الحمد لله الذي جعل هذا اليوم عيدًا لعباده المؤمنين وأقامه.
عيد الأضحى هو عيد الحج. قال: “صلّوا لربكم وانحروا. أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله. اللهم صلِّ على محمد وعلى آله وصحبه أجمعين. والآن…”
يا عباد الله، أوصيكم ونفسي بتقوى الله وطاعته تفلحون. الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، ولله الحمد.
Jamaah Id yang sama dimuliakan Allah SWT
Marilah kita tiada henti memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat, karunia, serta nikmat iman, Islam, kesehatan dan kesempatan yang tidak ternilai harganya. Semua ini memungkinkan kita
untuk terus beribadah dan mendekatkan diri kepada-Nya,
salawat dan salam senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabı Muhammad SAW, Beliau adalah insan pilihan, teladan paripurna (uswatun hasanah) bagi seluruh umat manusia hingga akhir zaman.
Jamaah Id yang sama dimuliakan Allah SWT.
Hari ini, 10 Zulhijjah tahun 1446 H ummat Islam di seluruh pelosok Indonesia berbondong-bondong datang ke tempat ibadah ataupun ke tanah lapang dalam rangka mewujudkan penghambaannya kepada Allah SWT., sambil mengumandangkan Takbir, Tahlil, dan Tahmid memuji kepada-Nya.

الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، ولله الحمد
“Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, tiada Tuhan selain Alah, Allah Maha Besar dan untuk-Nyalah segala pujian’
Kalimat ini pula dilantunkan oleh jamaah haji yang telah melontar jumrah Aqabah pada tanggal 10 Zulhijjah. Di mana sebelumnya para tamu Allah tersebut melakukan prosesi Ihram Haji, wukuf di Arafah, mabit di
Muzdalifah dan selanjutnya menuju Mina untuk melakukan prosesi mabit dan melontar jumrah. Mereka melantunkan kalimat talbiyah :
لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لاَ شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ
Artinya:
Aku penuhi panggilan-Mu, aku penuhi panggilan-Mu wahai yang tiada sekutu bagi-Mu, sesungguhnya pujian, nikmat dan kekuasaan hanyalah milik-Mu tiada sekutu bagi-Mu
الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، ولله الحمد
Melontar jumrah yang dilakoni oleh jamaah haji di tempat pelontaran pada dasarnya merupakan salah satu warisan Nabi Ibrahim dan anaknya Ismail alaihimassalam. Untuk itu, sebaiknya kita membuka kembali lembaran sejarah. Suatu peristiwa yang dikenang sepanjang masa oleh seluruh umat Islam di penjuru dunia. Peristiwa itu berkenaan dengan Nabi Ibrahim dan Ismail alahimassalam yang diuji kesabaran dan ketaatannya oleh Allah SWT.
Di tanah Mina itulah lbrahm AS. dan anaknya yang sangat
disayanginya Ismail AS. didatangi berulang kali oleh iblis yang datang dalam bentuk manusia untuk menggoda Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail Alaihimassalam agar enggang melaksanakan perintah Allah SWT. Setiap kali iblis datang menggodanya dengan seribu macam rayuan, setiap kali itu pulalah iblis mendapat hadiah lemparan batu yang membuatnya lari terbirit-birit.
Peristiwa pelontaran iblis yang dilakoni oleh Ibrahim dan Ismail alaihimassalam merupakan bentuk perlawanan terhadap iblis dan sekutunya syaithan. Syiar ini senantiasa mengingatkan manusia, baik yang belum melaksanakan ibadah haji maupun yang telah mendapap gelar hají untuk tidak terbuai oleh segala bentuk godaan dan rayuan iblis dan syaithan sekaligus menjadikannya sebagai musuh utama sepanjang masa.
Dalam al-Qur’an Allah SWT. telah mengingatkan seluruh hamba-Nya agar terhindar dari tipu-daya syaithan. Allah SWT., berfirman dalam surah al-Baqarah ayat
168:
وَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ ١٦٨…
Terjemahnya:
“dan janganlah kamu mengikųti langkah-langkah syaitan karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.”
Jamaah ld Rahimakumullah.
Sebenarnya, ibadah haji yang dilakukan oleh umat Islam pada bulan-bulan haji di setiap tahunnya sarat dengan pembelajaran yang dapat merubah pola hidup manusia, baik itu yang sifatnya duniawi maupun ukhrawi. Itulah kiranya salah satu hikmah Allah SWT. mensyariatkan ibadah
haji dan menjadikannya sebagai salah satu rukun Islam.
Allah SWT. berfirman dalam surah Ali Imran ayat 97:
وَلِلّٰهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ اِلَيْهِ سَبِيْلًاۗ وَمَنْ كَفَرَ فَاِنَّ اللّٰهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعٰلَمِيْنَ ٩٧…
Terjemahnya
“dan mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah. Yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji) maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.”
Dengan demikian, ibadah haji bukanlah produk budaya yang bisa dianggap shahih (benar) atas pertimbangan pandangan dan kebiasaan kebanyakan orang. Ibadah haji bula sekedar pencapaian gelar haji atau sekedar wisata spritual semata untuk melihat ka’bah dan jejak-jejak peninggalan sejarah para Nabi dan Rasul Allah. Lebih dari itu, ibadah haji memiliki pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT sekaligus mengemban amanah sosial.
Untuk itulah, setiap umat Islam yang menunaikan ibadah haji berharap agar mendapatkan predikat haji mabrur, yaitu haji yang diterima oleh Allah SWT terbebas dari segala dosa, penuh dengan amal saleh dan kebaikan lainnya, sehingga balasannya hanya Syurga. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah SAW.
“Al Hajju Mabrurun laisa lahu jaza’un illa Al Jannah”
Artinya:
“Haji Mabrur tidak ada balasannya kecuali Syurga.”
Jika dicermati lebih dalam lagi (secara filosofi), rukun Islam menempatkan ibadah haji sebagai rukun Islam yang ke lima. Ibadah haji dijadikan sebagai rukun terakhir setelah pengorbanan lisan melalui kesaksian atau syahadatain bahwa ” tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad SAW adalah utusan Allah”, setelah pengorbanan waktu melalui kewajiban salat fardhu yang ditunaikan lima kali dalam 24 jam, setelah pengorbanan harta dengan adanya kewajiban mengeluarkan zakat. Hikmahnya adalah dalam menunaikan ibadah haji, senantiasa menuntut pengorbanan, entah itu dalam bentuk pengorbanan lisan, waktu, fisik, mampu harta, yang selanjutnya mesti membekas pada perilaku kemanusiaannya.
Itulah kiranya setiap hamba Alah SWT yang telah menunaikan ibadah haji dituntut senantiasa meningkatkan kwalitas kebaikannya dan menjadikan ibadah hajinya sebagai gerbang awal menuju ibadah yang lebih khusyu dibanding sebelumnya. Begitu pula menjadi pondasi yang lebih kuat dalam pembinaan prilaku dalam masyarakat.
الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، ولله الحمد
Jamaah Id rahimakumullah
Selanjutnya, hari raya Idhul Adha ini dinamai juga dengan hari raya Qurban karena pada hari ini dan tiga hari setelahnya, ummat Islam disunnahkan untuk menyembelih hewan qurban sebagai salah satu bentuk
pendekatan diri kepada Allah SWT. Dalam sejarah peradaban manusia, anak Adam, Qabil dan Habil tercatat sebagai manusia pertama yang telah melakukan praktek qurban. Konon, Habil mempersembahkan domba terbaik
yang dimilikinya, sedangkan Qabil mempersembahkan tumbuh-tumbuhan yang tidak sempurna. Agaknya inilah kurban” pertama dalam bentuk material yang dilakukan oleh manusia.
Qurban persembahan Habil diterima oleh Allah SWT., sedangkan qurban persembahan Qabil ditolak oleh Allah SWT. Tertolaknya persembahan Qabil, boleh jadi karena keikhlasan dan persembahannya yang tidak sempurna.
Dari sini diketahui bahwa hewan yang dijadikan sebagai
qurban disyaratkan harus dalam bentuk sempurna, tidak cacat, dan harus pula dipersembahkan secara ikhlas.
Anak cucu Adam menyadari betapa pentingnya “qurban”, dan mula tradisi ini berkembang sehingga akhirnya bukan hanya binatang yang diqurbankan, tetapi juga manusia. Begitu pula, bukan hanya kepada Allah SWT persembahan tersebut dilakukan, tetapi juga kepada dewa-dewa yang
dipertuhan.
Hingga pada masa Nabi lbrahm AS., Allah SWT., meluruskan tradisi yang keliru tersebut melalui dua manusia pilihannya, yaitu Tbrahim dan Ismail alaihimassalam.
Di samping itu, nuncul pula sekelompok manusia yang mulai sadar dan berpikir tentang kekeliruan menjadikan manusia sebagai qurban. Menurut mereka “manusia terlalu mahal untuk dijadikan qurban demi Tuhan”
Al-Qur’ an menguraikan bahwa Nabi Ibrahim AS. menyampaikan kepada anaknya Ismail AS., bahwa beliau bermimpi menyembelihnya. Sang putra sadar bahwa itu adalah perintah Allah SWT., maka dengan ikhlas iapun
berkata kepada ayahnya, “Ayahku, laksanakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk kelompok hamba yang bersabar”.
Akan tetapi melihat kesabaran, keikhlasan, dan ketaatan
serta kepatuhan Ibrahim dan Ismail alaihimassalam dalam melaksanakan perintah tersebut. Allah SWT mengganti posisi Ismail AS. dengan seekor domba yang besar sebagaimana firman Allah SWT. dalam surah Ash-Shaffat ayat 107 : وَفَدَيْنٰهُ بِذِبْحٍ عَظِيْمٍ ١
Terjemahnya:
“dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.”
الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، ولله الحمد
Ketika Rasulullah Muhammad SAW. telah diutus oleh Allah SWT. sebagai Nabi dan Rasul-Nya, qurban yang telah diluruskan dan diperintahkan oleh Allah SWT. pada masa Nabi lbrahim AS, kembali ditegaskan oleh Allah SWT. sebagai bagian dari risalah llahi yang diturunkan kepada Rasulullah SAW.
Hal ini ditegaskan oleh Allah SWT. dalam al-Qur’an surah
al-Kautsar ayat 1-3: اِنَّآ اَعْطَيْنٰكَ الْكَوْثَرَۗ ١ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْۗ ٢ اِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْاَبْتَرُࣖ ٣
Terjemahnya
Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhamu, dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membeci kamu Dialah yang terputus.”
الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، ولله الحمد
Qurban disyariatkan guna mengingatkan manusia bahwa jalan menuju kebahagiaan membutuhkan pengorbanan. Akan tetapi yang dikurbankan bukan manusia, bukan pula nilai-nilai kemanusiaan, tetapi binatang, sempurna
umur, dan tidak cacat, sebagai pertanda bahwa pengorbanan harus ditunaikan dan bahwa yang dikurbankan adalah sifat-sifat kebinatangan dalam diri manusia seperti sifat rakus, ingin menang sendiri, mengabaikan norma, nilai dan sebagainya.
Sebagai catatan penting yang harus diketahui dalam melaksanakan perintah qurban hendaklah dilandasi dengan niat ikhlas karena Allah semata, bukan karena ingin dipuji dan disanjung. Bagaimanapun sempurnanya hewan qurban yang disembelih, jika tidak dibarengi dengan niat ikhlas karena Allah, maka hal tersebut tidak akan mendapat balasan pahala dan keridhaan Allah, bahkan boleh jadi sebaliknya, akan mendapatkan murka
Allah SWT, Dalam hal ini, Allah swt berfirman dalam surah al-Hajj ayat 37:
لَنْ يَّنَالَ اللّٰهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاۤؤُهَا وَلٰكِنْ يَّنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْۗ كَذٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِيْنَ ٣٧
Terjemahnya
Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi Ketakwaan dari kamilah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar
gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.
الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، ولله الحمد
Sebagai wujud dari pengabdian kita kepada Allah SWT, sekaligus wujud kepedulian kita terhadap sasama hamba Allah, maka daging qurban hendaklah dibagikan secara mentah kepada fakir miskin dan kitapun dapat mengambil sedikit sebagai berkah. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam surah al-Haj ayat 28:
فَكُلُوْا مِنْهَا وَاَطْعِمُوا الْبَاۤىِٕسَ الْفَقِيْرَۖ ٢
Terjemahnya:
“Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir.”
Dalam surah al-Haj ayat 36 dijelaskan bahwa daging qurban diberikan kepada orang yang neminta dan orang yang tidak meminta. Artinya bahwa daging qurban dapat diberikan kepada ummat lslam pada umumnya. Bahkan bila ummat Islam sudah dapat semua, daging qurban dapat diberikan kepada orang yang non Muslim. Di sinilah salah satu makna dari sekian makna Islam sebagai rahmatan lil Alamin”.
الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، ولله الحمد
Jamaah ld yang dimuliakan Allah.
Akhirnya, marilah kita senantiasa berpegang teguh kepada al-Quran dan Sunnah Rasulullah SAW. karena dengannya kita akan selamat dalam meniti kehidupan dunia yang fana ini.
fa’budu ya ulil abshar la’allakum turhamun aqulu qauli hadza fastagfiru innahu huwal ghafur
Disusun oleh: DR H Andi Amrullah Akil, Lc., MAg
Majene dan Dosen Sekoah Tinggi Agama Islam (STAT) DD! serta Ketua Komisi Fattua Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Majene
Penulis adalah Kepala Sekşi Pendiáikan Agama Islam dan PLIKpala Su6 (Baqian Tata Usaha Kantor Kensenterian Agama Kak
