Hapida tengah berjualan buras di pinggir jalan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Beliau adalah salah satu lansia yang tidak terdata sebagai penerima BLTS Kesra.
Polewali Mandar, mandarnews.com – Langkah Hapida (62) terlihat tertatih saat menapaki halaman kantor kelurahan di Polewali, Kabupaten Polewali Mandar.
Dengan wajah penuh harap, perempuan renta yang sehari-hari berjualan buras di pinggir jalan itu datang untuk satu tujuan sederhana: menanyakan undangan sebagai penerima Bantuan Langsung Tunai Sementara (BLTS) Rp900 ribu.
Namun, harapannya pupus. Namanya tak tercantum sebagai penerima.
Di balik kerut wajahnya yang lelah, tersimpan beban hidup yang berat. Suami Hapida hanyalah buruh lepas. Kadang bekerja, kadang pulang dengan tangan hampa.
Penghasilan dari berjualan buras pun hanya cukup untuk sekadar bertahan hidup.
“Tahun lalu masih dapat, tapi sekarang sudah tidak ada lagi,” ucapnya lirih kepada wartawan, sambil menahan air mata, Jumat (28/11/2025).
Penyaluran bantuan yang dilakukan melalui PT Pos Indonesia setempat tak lagi berpihak padanya. Padahal, di usia senja, bantuan itu menjadi satu-satunya harapan untuk membeli beras, gula, dan kebutuhan harian.
Tak jauh dari Hapida, seorang nenek lain bernama Nurhaeni (65) juga harus mengelus dada. Nenek renta itu tinggal di rumah kontrakan bersama dua anaknya yang sama-sama hidup dalam keterbatasan.
Saat datang ke kantor kelurahan, tubuhnya tampak ringkih. Ia berjalan perlahan dengan sandal jepit usang, pakaian sederhana, dan tatapan mata yang penuh kecemasan.
“Nama saya juga tidak ada,” ujar Nurhaeni pelan. Ia mengaku kini hanya bisa pasrah, meski kebutuhan hidup kian menekan.
Ironi kian terasa ketika di tempat yang sama, puluhan warga lain datang mengambil undangan bantuan dengan pakaian rapi, usia masih produktif, bahkan sebagian mengendarai sepeda motor.
Pemandangan itu membuat kekecewaan para lansia seperti Hapida dan Nurhaeni semakin dalam.
Bagi mereka, bantuan Rp900 ribu bukanlah sekadar angka. Uang itu adalah harapan hidup—untuk membeli makan, obat, dan membayar kebutuhan dasar di tengah usia yang menua tanpa kepastian.
Sebelumnya, kisah serupa juga dialami Subaeda, seorang lansia yang hidup seorang diri. Ia pun harus menerima kenyataan pahit karena tak terdaftar sebagai penerima bantuan.
Program BLTS sejatinya digulirkan untuk membantu masyarakat paling rentan. Namun di Polewali Mandar, bantuan itu justru terasa semakin jauh dari tangan mereka yang benar-benar membutuhkan.
Hingga kini, tak satu pun pihak yang benar-benar berdiri untuk bertanggung jawab atas carut-marutnya data penerima bantuan. Di tengah saling lempar tanggung jawab antar instansi, para lansia hanya bisa menunggu—dengan harapan yang semakin menipis.
Berdasarkan informasi yang dihimpun dari sejumlah sumber di tingkat kelurahan, tidak hanya penggunaan data lama yang kembali dipakai dalam penyaluran BLTS, tetapi juga banyak undangan penerima bantuan yang tercecer dan berasal dari luar wilayah.
“Ada penerima yang merupakan warga kelurahan atau desa lain, bukan warga setempat,” ujar staf kelurahan kepada awak media, Rabu (26/11/2025).
Bahkan, beberapa nama dalam daftar penerima bantuan diketahui sudah pindah domisili atau tidak lagi berada di lokasi, namun tetap tercantum sebagai penerima.
Sebaliknya, ada warga yang secara kondisi fisik dan ekonomi benar-benar layak, justru tidak mendapat bantuan Rp900 ribu yang dicairkan melalui kantor pos tersebut. (rls/ilm)
