Skip to content
08/10/2026
  • facebook
  • twitter
  • instagram.com
  • youtube
  • whatsapp
MANDARNEWS.COM

MANDARNEWS.COM

Mengedepankan Nalar Dengan Akal & Realitas

pasang iklanmu di sini
Primary Menu
  • HOME
  • sulbar
  • Lintas Daerah
  • Edukasi + Sains
  • Teknologi
  • Sport
  • Health
  • Life Style
  • advertorial
  • International
  • Sahabat MN
Live
  • Home
  • News
  • Sosial Ekobis
  • 58% Konsumen Gunakan AI untuk Riset Pembelian, Brand Mulai Berebut Visibilitas di Jawaban AI
  • Sosial Ekobis

58% Konsumen Gunakan AI untuk Riset Pembelian, Brand Mulai Berebut Visibilitas di Jawaban AI

Mandar News 08/10/2026 4 minutes read

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
  • Share on Telegram (Opens in new window) Telegram
  • Share on WhatsApp (Opens in new window) WhatsApp
codeimg-197

Cara konsumen mencari dan mempertimbangkan sebuah produk mulai berubah. Jika sebelumnya perjalanan pembelian banyak dimulai dari mesin pencari dan berlanjut ke berbagai situs, kini semakin banyak konsumen menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk melakukan riset sebelum membeli.

Laporan The B2C Buyer Experience Report 2026 dari Invoca menemukan bahwa 58% konsumen di Amerika Serikat menggunakan generative AI untuk meneliti pembelian berisiko tinggi pada 2026, meningkat dari 41% pada tahun sebelumnya. Sementara itu, riset Boston Consulting Group (BCG) terhadap lebih dari 13.000 konsumen di 12 pasar menemukan bahwa 31% konsumen global sudah menggunakan AI setidaknya sesekali dalam perjalanan pembelian mereka.

Perubahan tersebut membuat cara brand mendapatkan perhatian konsumen ikut bergeser. Konsumen tidak lagi selalu mencari daftar situs untuk dibandingkan satu per satu. Mereka dapat langsung bertanya kepada AI mengenai produk, kategori, atau rekomendasi, lalu menggunakan jawaban tersebut sebagai titik awal untuk menentukan pilihan.

Dampaknya terhadap brand cukup besar. Data Net Conversion pada 2026 menunjukkan bahwa 74% konsumen yang menggunakan AI untuk melakukan riset mengatakan bahwa rekomendasi AI memperluas jumlah brand yang mereka pertimbangkan. BCG juga menemukan bahwa AI memperkenalkan konsumen kepada brand yang sebelumnya tidak akan mereka pertimbangkan dalam sekitar 63% perjalanan pembelian yang dibantu AI.

Artinya, AI bukan sekadar tempat untuk mencari informasi. Sistem AI fmulai berperan dalam menentukan brand mana yang masuk ke consideration set konsumen.

Dari Mendapatkan Klik ke Masuk dalam Jawaban

Perubahan ini terjadi bersamaan dengan menurunnya ketergantungan konsumen terhadap klik dari hasil pencarian tradisional. Analisis SparkToro menggunakan data Similarweb menunjukkan bahwa 68,01% pencarian Google di Amerika Serikat berakhir tanpa klik ke situs eksternal pada periode Januari hingga April 2026.

Kemunculan AI-generated answers memperkuat perubahan tersebut. Ketika informasi yang dibutuhkan sudah dirangkum langsung di dalam halaman pencarian atau diberikan melalui chatbot, pengguna tidak selalu memiliki alasan untuk mengunjungi setiap sumber yang digunakan sistem.

Bagi brand, kondisi ini menciptakan bentuk persoalan baru. Visibilitas tidak lagi hanya ditentukan oleh apakah sebuah halaman berhasil mendapatkan posisi tinggi di hasil pencarian, tetapi juga oleh apakah brand tersebut muncul ketika konsumen meminta jawaban atau rekomendasi dari AI.

“Dulu kita bisa melihat visibility dengan cukup sederhana. Brand muncul di Google, orang klik, lalu kita bisa mengukur traffic-nya. Di AI, prosesnya berbeda. Konsumen bisa mendapatkan jawaban tanpa pernah mengunjungi situs kita,” ujar Alexandro Wibowo, Partner of Avonetiq.

Menurut Alexandro, perubahan ini tidak berarti SEO menjadi tidak relevan. Situs dan fondasi pencarian tetap dibutuhkan, tetapi brand perlu memahami bahwa ada lapisan baru dalam perjalanan discovery yang tidak bisa diukur hanya dari ranking dan trafik organik.

“Sekarang pertanyaannya bukan hanya apakah brand kita bisa ditemukan, tetapi apakah ketika seseorang bertanya kepada AI, brand kita menjadi bagian dari jawabannya,” tambahnya.

Brand Perlu Memahami Apa yang AI Ketahui tentang Mereka

Pergeseran tersebut kemudian melahirkan kebutuhan baru bagi tim marketing. Mereka perlu mengetahui bukan hanya bagaimana brand tampil di search engine, tetapi juga bagaimana brand direpresentasikan dan direkomendasikan oleh berbagai sistem AI.

Avonetiq menjawab kebutuhan tersebut melalui AVO AI, sebuah platform yang membantu bisnis mengukur dan meningkatkan cara brand mereka ditemukan, dipahami, dan direkomendasikan oleh berbagai platform AI.

Melalui AVO AI, bisnis dapat mengukur Visibility Score brand di berbagai platform seperti ChatGPT, Perplexity, Google AI Overviews, Claude, Gemini, dan DeepSeek. Pengukuran ini dilakukan berdasarkan pertanyaan atau prompt yang relevan dengan kategori dan perjalanan konsumen, sehingga bisnis dapat melihat apakah brand mereka muncul ketika calon pelanggan mencari informasi atau rekomendasi menggunakan AI.

AVO AI juga membantu bisnis memahami mengapa sebuah brand muncul atau tidak muncul dalam jawaban AI. Bisnis dapat menentukan fokus atau topik yang ingin diasosiasikan dengan brand, menyusun Prompt Book berdasarkan pertanyaan yang mungkin diajukan konsumen, lalu memantau bagaimana brand dan kompetitornya muncul dalam berbagai jawaban AI.

Dari hasil tersebut, AVO AI dapat menunjukkan area yang masih perlu diperkuat, mulai dari visibilitas brand hingga aspek otoritas dan informasi yang mendukung bagaimana brand dipahami oleh AI. Dengan begitu, tim marketing tidak hanya mengetahui bahwa brand mereka belum muncul, tetapi juga mendapatkan gambaran mengenai apa yang perlu dioptimalkan.

“Yang perlu dilihat bukan hanya berapa kali nama brand muncul. Kita perlu memahami apakah AI mengenali brand sesuai dengan positioning yang ingin dibangun, dalam pertanyaan yang relevan dengan perjalanan konsumen,” jelas Alexandro.

Dengan pendekatan tersebut, AVO AI membantu bisnis melihat perubahan discovery digital dari sisi yang sebelumnya sulit diukur: bukan hanya apakah konsumen bisa menemukan brand melalui search engine, tetapi apakah brand tersebut menjadi bagian dari jawaban ketika konsumen bertanya kepada AI.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Mandar News

See author's posts

Like this:

Like Loading...

Post navigation

Previous: Halo Robotics Ditunjuk Sebagai Distributor Resmi Tunggal Pemindai Spasial XGRIDS di Indonesia
Next: BRI Finance Gandeng Relawan Nanda Ladio Peduli untuk Perbaikan Jalan Berlubang di Pekanbaru

Related Stories

codeimg-204
  • Sosial Ekobis

Rilis Sanggabright Berkonsep #TERIMABERES, Sanggabiz Hadirkan Solusi Analitik Mandiri untuk Akselerasi Bisnis UMKM

Mandar News 08/10/2026
codeimg-203
  • Sosial Ekobis

Gubernur Lemhannas RI: Kesadaran Geopolitik, Bukan Sekadar Milik Diplomat Saja

Mandar News 08/10/2026
codeimg-202
  • Sosial Ekobis

BRI Insurance Bersama PNM Perkuat Pemulihan Warga Terdampak Kebakaran Desa Adat Sade-NTB

Mandar News 08/10/2026
Pengganti Iklan Kosong
IKLAN
IKLAN

OBITUARI

Dinas Perumahan Rakyat Mateng

Awo (50) Bangkit (59) Bawaslu Majene (58) Berita Majene (49) Berita Mamasa (68) Berita Mandar (83) Bupati Majene (40) corona (76) covid 19 (247) DPRD Majene (40) gempa sulbar (48) Indonesia (56) Kebakaran (47) Kodim 1401 majene (111) KPU Majene (104) KPU Mamasa (45) KSP (260) lawan Covid-19 (93) Longsor (43) Mahasiswa (40) majene (1389) Malunda (50) mamasa (451) mamuju (251) mandar (224) Mari Vaksin (61) Moeldoko (79) pemilu (44) Pemilu 2019 (71) Pemilu 2024 (46) pemkab majene (115) pemprov sulbar (63) polda sulbar (130) polewali mandar (53) polman (271) polres majene (367) polres mamasa (62) Presiden (40) Sendana (58) Sosialisasi (51) sulawesi barat (91) sulbar (1404) TMMD (56) Unsulbar (70) Vaksin (41)

  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Pedoman Media Siber
  • facebook
  • twitter
  • instagram.com
  • youtube
  • whatsapp
Copyright © All rights reserved. | MoreNews by AF themes.
 

Loading Comments...
 

    %d