Rapat rencana kerja Komisi I DPRD Polewali Mandar dengan para camat.
Polewali Mandar, mandarnews.com – Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Polewali Mandar meminta para camat untuk berinovasi dalam membuat rencana kerja untuk tahun anggaran 2027.
“Diperlukan inovasi dari setiap camat, namun tidak keluar dari menu yang telah ada,” ujar Ketua Komisi I, Rahmadi, saat memimpin rapat rencana kerja dengan para camat se-Polewali Mandar, Rabu (29/7/2026).
Rahmadi menegaskan, jika ada program inovasi camat yang besar manfaatnya bagi masyarakat, anggarannya tentu akan diperjuangkan.
Tujuan rapat rencana kerja diadakan, ucap Rahmadi, adalah untuk me-refresh apa yang terjadi di kecamatan tahun sebelumnya untuk dijadikan sebagai bahan evaluasi kedepannya agar menemukan solusi.
Rapat rencana kerja bersama camat sendiri dibagi ke dalam beberapa sesi, yang tiap sesinya diikuti oleh lima camat, dengan tujuan bisa lebih fokus menganalisa permasalahan yang dipaparkan, mengingat jumlah camat yang mencapai 16.
Adapun beberapa persoalan yang disampaikan dalam rapat itu meliputi pemanfaatan pasar, pengelolaan tempat wisata, penanganan sampah, hingga praktik tambang.
Camat Binuang, Andi Saggap, mengatakan kalau pasar di daerahnya belum juga difungsikan karena ketiadaan tempat pedagang untuk menyimpan dagangannya pada malam hari.
“Tiap selesai menjual, pedagang harus membawa kembali semua dagangannya sehingga biayanya lebih tinggi,” tutur Andi Saggap.
Sedangkan mengenai tempat wisata, seperti Batetangnga, Andi Saggap mengungkapkan bahwa sampai saat ini belum ada regulasi yang mengatur agar kecamatan bisa memungut retribusi sehingga belum bisa menyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Senada dengan Camat Binuang, Camat Polewali, Masrullah, mengemukakan jika pemerintah kalah cepat dengan pihak swasta dalam pengelolaan tempat wisata.
“Kadang kita baru mau datang, mereka sudah di dalam. Bahkan, ada pengelola yang bilang kalau kita tidak memberikan yang mereka butuhkan ketika baru akan mengelola, kalau sudah ramai baru kita datang,” tukas Masrullah.
Kecamatan Polewali yang memiliki dua pasar besar penyumbang PAD, yaitu Pasar Polewali dan Pasar Pekkabata, turut memaparkan kondisi bangunan pasar yang sudah lama.
“Bangunannya sudah dari tahun 90-an, sehingga pedagang tidak mau memanfaatkan los-los yang disediakan,” beber Masrullah.
Sementara itu, Camat Wonomulyo, Samiaji, mengutarakan perihal penanganan sampah di wilayahnya, terutama sampah di Pasar Wonomulyo yang kerap menjadi keluhan masyarakat.
“Wonomulyo hanya memiliki tiga armada pengangkut sampah. Cuma tiga dibandingkan dengan Polewali yang armadanya sampai 15. Sementara yang kita lihat, sampahnya luar biasa. Ketika tempat pembuangan dibersihkan, sampahnya sampai meluber ke luar,” pungkas Samiaji. (ilm)
