Masjid Istiqomah Dusun Lalattedong

Penulis : Haidir Fitra Siagian, S.Sos., M.Si., PhD.
(Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar)
Sore tadi, jelang waktu Magrib, saya sengaja singgah di Masjid Istiqomah yang berada di Dusun Lalattedong, Desa Lalattedong, Kecamatan Sendana, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat. Masjid ini berada di jalur poros nasional Trans Sulawesi dan menghadap langsung ke Selat Makassar, meski diselingi pepohonan beberapa meter di depannya. Letaknya sekitar 35 kilometer dari pusat Kota Majene dan sekitar 120 kilometer dari Kota Mamuju, ibu kota Provinsi Sulawesi Barat.
Bagi orang yang sering melakukan perjalanan darat di jalur Sulawesi, keberadaan masjid seperti ini tentu sangat berarti. Tidak semua masjid di pinggir jalan mampu menghadirkan rasa nyaman bagi musafir. Namun Masjid Istiqomah memberikan kesan berbeda sejak pertama kali saya tiba. Suasananya tenang, bersih, dan terasa sangat ramah bagi siapa saja yang singgah.
Salah satu hal yang langsung terlihat adalah area masjid yang terbuka tanpa pagar. Kendaraan bisa masuk dengan mudah, baik sepeda motor maupun mobil. Area parkirnya juga cukup luas. Hal seperti ini mungkin terlihat sederhana, tetapi sebenarnya sangat penting, terutama bagi pengendara mobil yang membawa keluarga atau rombongan. Banyak orang memilih singgah di sebuah masjid karena tempat parkirnya aman dan mudah diakses. Sebaliknya terdapat pula jamaah yang tidak jadi singgah karena ketiadaan tempat parkir yang memadai.
Masjid ini memiliki ruang salat yang nyaman dan cukup representatif. Menurut saya kebersihan masjid sangat terpelihara dengan baik. Tempat wudhu, kamar mandi, dan toilet terlihat bersih serta nyaman digunakan. Bagi musafir yang telah menempuh perjalanan jauh, fasilitas seperti ini sangat membantu untuk memulihkan tenaga sebelum kembali melanjutkan perjalanan.
Pengurus masjid juga menyediakan sambungan listrik untuk mengecas telepon genggam. Di zaman sekarang, kebutuhan mengisi daya ponsel menjadi hal penting bagi para pelintas jalan. Kehadiran colokan listrik di beberapa titik menunjukkan bahwa pengurus masjid memahami kebutuhan jamaah dengan baik. Semuanya ini tidak dipungut biaya alias percuma.
Di halaman masjid terdapat gazebo yang bisa digunakan untuk duduk dan beristirahat. Sambil menikmati angin dari arah Selat Makassar, para musafir dapat menikmati kopi panas atau teh panas yang disediakan secara gratis. Dispenser, kompor gas, serta beberapa saset kopi, gula, dan teh juga tersedia. Jamaah dipersilakan membuat minuman sendiri dengan bebas.
Hal lain yang membuat saya terkesan adalah tidak adanya larangan tidur di dalam masjid. Di beberapa tempat, sering ditemukan tulisan larangan tidur atau sikap kurang ramah terhadap musafir yang ingin beristirahat. Di Masjid Istiqomah, para musafir tetap dipersilakan beristirahat selama menjaga kebersihan dan adab di dalam masjid. Bahkan pengurus juga menyiapkan kelambu bagi musafir yang ingin menginap agar terhindar dari nyamuk. Coba bayangkan. Ini adalah bentuk pelayanan yang mungkin terlihat kecil, tetapi sangat berarti bagi orang yang sedang melakukan perjalanan jauh.
Lebih menarik lagi, bagi keluarga atau rombongan yang ingin singgah atau bermalam, pengurus masjid mempersilakan mereka menghubungi pengurus sebelum tiba. Dengan begitu, pengurus dapat menyiapkan pelayanan lebih awal agar para tamu merasa lebih nyaman ketika datang. Sikap seperti ini menunjukkan bahwa pengurus masjid benar-benar melayani dengan ikhlas dan tidak takut direpotkan, maupun tidak khawatir jika akan menguras kas masjid.
Masjid ini juga memiliki ruang khusus untuk konsultasi agama dan pembayaran ZIS (zakat, infak, dan sedekah). Ruangan ini sangat bermanfaat bagi masyarakat yang ingin bertanya tentang persoalan ibadah, keluarga, atau masalah keagamaan lainnya secara lebih nyaman dan pribadi. Sementara layanan pembayaran ZIS memudahkan masyarakat untuk menyalurkan zakat dan sedekah dengan lebih tertata. Kehadiran ruangan seperti ini menunjukkan bahwa masjid tidak hanya menjadi tempat salat, tetapi juga pusat pelayanan umat.
Yang paling menggembirakan adalah adanya ruang menyusui bagi ibu yang memiliki bayi. Tidak banyak masjid yang menyediakan fasilitas seperti ini, bahkan di kota-kota besar sekalipun. Untuk sekelas masjid, ini pertama kalinya saya melihat ada ruangan menyusui, bahkan di berbagai negara yang sudah saya kunjungi. Padahal ruang menyusui sangat penting agar ibu dapat menyusui bayinya dengan nyaman, tenang, dan tetap menjaga privasi. Bayi juga menjadi lebih nyaman dan tidak terganggu oleh keramaian.
Kehadiran ruang menyusui menunjukkan bahwa pengurus masjid memiliki kepedulian besar terhadap perempuan dan anak-anak. Mereka memahami bahwa masjid harus ramah bagi semua kalangan, termasuk ibu menyusui yang sedang melakukan perjalanan jauh bersama keluarganya.
Melihat semua fasilitas dan pelayanan di Masjid Istiqomah, saya jadi teringat pada kebaikan masyarakat Mandar dalam memuliakan tamu dan membantu sesama. Beberapa tahun lalu, ketika terjadi bencana alam di Mamuju dan Palu, Sulawesi Tengah, masyarakat di sepanjang jalan Majene-Malunda membuka posko istirahat di depan rumah mereka. Mereka menyediakan minuman gratis dan tempat beristirahat bagi pengungsi maupun relawan kemanusiaan yang lalu lalang di jalur tersebut. Kebaikan itu masih terasa hingga hari ini.
Masjid Istiqomah seakan menjadi bagian dari budaya luhur masyarakat Mandar yang senang melayani tamu dengan tulus. Yang menarik, semua pelayanan ini hadir bukan di kota besar, melainkan di sebuah kawasan pedesaan. Ini membuktikan bahwa kepedulian sosial tidak selalu lahir dari tempat yang mewah atau modern, tetapi dari hati yang ikhlas dan rasa empati terhadap sesama.
Dalam perjalanan saya di Kabupaten Majene, saya juga menemukan beberapa masjid lain yang ramah terhadap musafir. Hal ini menunjukkan bahwa budaya memuliakan tamu masih hidup dengan baik di daerah ini. Semoga Masjid Istiqomah dapat menjadi contoh bagi banyak masjid di berbagai daerah di Indonesia. Sebab sesungguhnya, masjid bukan hanya tempat untuk salat, tetapi juga tempat menghadirkan kenyamanan, pelayanan, persaudaraan, dan kasih sayang bagi semua orang yang datang singgah.***
Somba Majene, 29 Mei 2026
