Skip to content
26/10/2026
  • facebook
  • twitter
  • instagram.com
  • youtube
  • whatsapp
MANDARNEWS.COM

MANDARNEWS.COM

Mengedepankan Nalar Dengan Akal & Realitas

pasang iklanmu di sini
Primary Menu
  • HOME
  • sulbar
  • Lintas Daerah
  • Edukasi + Sains
  • Teknologi
  • Sport
  • Health
  • Life Style
  • advertorial
  • International
  • Sahabat MN
Live
  • Home
  • News
  • Sosial Ekobis
  • Harga Emas Bertahan Dekat Level Terendah Tiga Bulan, Investor Menanti Keputusan The Fed
  • Sosial Ekobis

Harga Emas Bertahan Dekat Level Terendah Tiga Bulan, Investor Menanti Keputusan The Fed

Mandar News 26/10/2026 4 minutes read

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
  • Share on Telegram (Opens in new window) Telegram
  • Share on WhatsApp (Opens in new window) WhatsApp
codeimg-591

Harga emas dunia bergerak relatif stabil pada perdagangan Asia, Senin (26/10), setelah mengalami penurunan tajam sepanjang pekan sebelumnya. Investor kini mencermati dampak kenaikan harga minyak terhadap inflasi serta arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) menjelang pertemuan bank sentral Amerika Serikat tersebut pada 27–28 Oktober 2026.

Mengutip laporan Investing.com, harga emas spot tercatat relatif datar di level US$3.995,42 per troy ounce pada pukul 22.40 ET, sementara kontrak berjangka emas Amerika Serikat berada di US$4.007,45 per troy ounce. Sebelumnya, harga emas spot sempat turun di bawah level psikologis US$4.000 per troy ounce pada Jumat, untuk pertama kalinya sejak pertengahan Juli 2026.

Secara mingguan, harga emas mengalami penurunan sekitar 4,1%. Pelemahan ini menunjukkan bahwa kenaikan harga energi dan ekspektasi suku bunga menjadi faktor penting yang memengaruhi keputusan investor dalam mengalokasikan dana ke aset logam mulia.

Kenaikan Harga Minyak Menekan Harga Emas

Salah satu faktor utama yang menekan harga emas adalah kenaikan harga minyak mentah di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Harga minyak Brent mencatat kenaikan sekitar 6,2% sepanjang pekan sebelumnya dan mencapai penutupan mingguan tertinggi sejak pertengahan 2022 sebelum akhirnya melemah pada Senin.

Kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan energi membuat pasar mengantisipasi kemungkinan kenaikan biaya produksi dan transportasi. Jika harga energi bertahan tinggi, tekanan inflasi dapat berlangsung lebih lama dan mempersulit upaya bank sentral untuk menjaga stabilitas harga.

Secara historis, emas kerap dipandang sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian geopolitik. Namun, kenaikan inflasi yang mendorong suku bunga tetap tinggi justru dapat memberikan tekanan terhadap logam mulia tersebut.

Hal ini terjadi karena emas tidak memberikan imbal hasil berupa bunga. Ketika instrumen berbunga, seperti obligasi pemerintah, menawarkan imbal hasil yang lebih tinggi, sebagian investor dapat memilih mengalihkan dananya dari emas ke aset tersebut.

Keputusan Suku Bunga The Fed Jadi Perhatian Pasar

Perhatian investor kini tertuju pada pertemuan The Fed yang dijadwalkan berlangsung pada 27–28 Oktober 2026. Pasar secara luas memperkirakan bank sentral Amerika Serikat akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan tersebut.

Meski demikian, investor juga memantau petunjuk mengenai kemungkinan perubahan kebijakan pada Desember mendatang. Berdasarkan data CME FedWatch yang dikutip Investing.com, pasar memperhitungkan probabilitas sekitar 78% untuk kenaikan suku bunga pada Desember.

Ekspektasi tersebut muncul setelah data inflasi konsumen dan produsen Amerika Serikat menunjukkan tekanan harga yang lebih tinggi daripada perkiraan. Kondisi ini meningkatkan kekhawatiran bahwa inflasi belum akan kembali ke target The Fed dalam waktu dekat.

Selain itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun berada di sekitar 5%. Tingkat imbal hasil yang tinggi dapat meningkatkan daya tarik instrumen pendapatan tetap dibandingkan emas, sehingga berpotensi membatasi pemulihan harga logam mulia.

Investor juga akan mencermati rilis indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi atau Personal Consumption Expenditures (PCE) pada 29 Oktober. Indikator ini menjadi salah satu acuan penting The Fed dalam mengevaluasi perkembangan inflasi di Amerika Serikat.

Prospek Emas Masih Dipengaruhi Ketidakpastian Global

Pergerakan emas dalam waktu dekat diperkirakan masih sensitif terhadap perkembangan harga minyak, imbal hasil obligasi, dan ekspektasi kebijakan moneter. Jika harga energi terus meningkat dan inflasi bertahan tinggi, peluang penurunan suku bunga dapat semakin terbatas sehingga menambah tekanan terhadap emas.

Sebaliknya, penurunan harga minyak atau meredanya ketegangan geopolitik berpotensi mengurangi kekhawatiran inflasi. Kondisi tersebut dapat memberikan ruang bagi perubahan ekspektasi suku bunga dan memengaruhi daya tarik emas di mata investor.

Meski demikian, ketidakpastian geopolitik masih dapat menopang permintaan terhadap aset lindung nilai. Karena itu, arah harga emas tidak hanya bergantung pada satu faktor, tetapi juga pada bagaimana investor menyeimbangkan risiko inflasi, kebijakan moneter, dan kebutuhan menjaga nilai aset.

Di tengah volatilitas pasar, investor perlu memahami bahwa emas tetap memiliki risiko fluktuasi harga. Pemantauan kondisi ekonomi global dan penyesuaian strategi investasi berdasarkan profil risiko menjadi bagian penting dalam pengambilan keputusan.

Pantau Pergerakan Emas Digital dan Aset Investasi di Nanovest

Pergerakan Saham Amerika Serikat, aset kripto, dan emas digital kini dapat dipantau melalui aplikasi Nanovest. Bagi investor Indonesia yang ingin mulai berinvestasi di saham AS atau mengeksplorasi berbagai aset kripto, Nanovest menyediakan akses ke beragam instrumen investasi dalam satu aplikasi, dengan nominal awal mulai dari Rp5.000.

Nanovest merupakan aplikasi investasi yang berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), serta memiliki perlindungan terhadap risiko kejahatan siber dengan Asuransi Sinarmas sesuai ketentuan yang berlaku. Investor tetap perlu memahami karakteristik dan risiko setiap aset sebelum mengambil keputusan investasi.

Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi situs resmi www.nanovest.io. Aplikasi Nanovest juga tersedia melalui Google Play Store dan Apple App Store.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Mandar News

See author's posts

Like this:

Like Loading...

Post navigation

Previous: Atasi Masalah Leaky Gut, GAPS Diet Indonesia Edukasi Pola Makan Anti-Inflamasi untuk Pemulihan Kesehatan Holistik
Next: OSL Indonesia Berkolaborasi dengan SMSI Bangka Belitung Dorong Literasi Aset Kripto di Kalangan Mahasiswa

Related Stories

codeimg-592
  • Sosial Ekobis

OSL Indonesia Berkolaborasi dengan SMSI Bangka Belitung Dorong Literasi Aset Kripto di Kalangan Mahasiswa

Mandar News 26/10/2026
codeimg-590
  • Sosial Ekobis

Atasi Masalah Leaky Gut, GAPS Diet Indonesia Edukasi Pola Makan Anti-Inflamasi untuk Pemulihan Kesehatan Holistik

Mandar News 26/10/2026
codeimg-589
  • Sosial Ekobis

BRI Finance Optimalkan Peluang di Segmen Pembiayaan Mobil Bekas

Mandar News 26/10/2026
Pengganti Iklan Kosong
IKLAN
IKLAN

OBITUARI

Dinas Perumahan Rakyat Mateng

Awo (50) Bangkit (59) Bawaslu Majene (58) Berita Majene (49) Berita Mamasa (68) Berita Mandar (83) Bupati Majene (40) corona (76) covid 19 (247) DPRD Majene (40) gempa sulbar (48) Indonesia (56) Kebakaran (47) Kodim 1401 majene (111) KPU Majene (104) KPU Mamasa (45) KSP (260) lawan Covid-19 (93) Longsor (43) Mahasiswa (40) majene (1391) Malunda (50) mamasa (451) mamuju (253) mandar (224) Mari Vaksin (61) Moeldoko (79) pemilu (44) Pemilu 2019 (71) Pemilu 2024 (46) pemkab majene (115) pemprov sulbar (63) polda sulbar (130) polewali mandar (53) polman (272) polres majene (367) polres mamasa (62) Presiden (40) Sendana (58) Sosialisasi (52) sulawesi barat (92) sulbar (1411) TMMD (56) Unsulbar (70) Vaksin (41)

  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Pedoman Media Siber
  • facebook
  • twitter
  • instagram.com
  • youtube
  • whatsapp
Copyright © All rights reserved. | MoreNews by AF themes.
 

Loading Comments...
 

    %d