Skip to content
29/09/2026
  • facebook
  • twitter
  • instagram.com
  • youtube
  • whatsapp
MANDARNEWS.COM

MANDARNEWS.COM

Mengedepankan Nalar Dengan Akal & Realitas

pasang iklanmu di sini
Primary Menu
  • HOME
  • sulbar
  • Lintas Daerah
  • Edukasi + Sains
  • Teknologi
  • Sport
  • Health
  • Life Style
  • advertorial
  • International
  • Sahabat MN
Live
  • Home
  • News
  • Sosial Ekobis
  • Indonesia Turun ke Peringkat 14 Kripto Global, Ada Apa dengan Penggunanya?
  • Sosial Ekobis

Indonesia Turun ke Peringkat 14 Kripto Global, Ada Apa dengan Penggunanya?

Mandar News 29/09/2026 5 minutes read

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
  • Share on Telegram (Opens in new window) Telegram
  • Share on WhatsApp (Opens in new window) WhatsApp
codeimg-550

Jakarta, 29 September 2026 — Posisi Indonesia dalam peta adopsi kripto global mengalami perubahan. Laporan terbaru Chainalysis menempatkan Indonesia di peringkat ke-14 dunia pada 2026, turun dari posisi ketujuh pada tahun sebelumnya. Namun di dalam negeri, jumlah akun konsumen aset kripto justru terus tumbuh hingga mendekati 23 juta.

Fenomena tersebut memperlihatkan tantangan baru bagi industri kripto nasional. Pertumbuhan jumlah pengguna ternyata belum otomatis menghasilkan aktivitas dan nilai transaksi yang lebih tinggi.

Dalam 2026 Global Crypto Adoption Index, Indonesia berada di peringkat ke-14 dari 117 negara. Indonesia menempati posisi ke-11 untuk total aliran transaksi, peringkat ke-12 untuk saldo aset kripto, posisi ke-13 untuk aktivitas peer-to-peer (P2P), serta peringkat ke-10 untuk transaksi lintas negara. Brasil menjadi negara dengan skor adopsi tertinggi pada 2026, disusul Amerika Serikat, Nigeria, Jepang, Korea Selatan, India, Ukraina, Thailand, Afrika Selatan, dan Kanada dalam jajaran sepuluh besar.

CEO dan Founder FLOQ, Yudhono Rawis, menilai penurunan peringkat tersebut tidak tepat jika langsung diterjemahkan sebagai hilangnya minat masyarakat Indonesia terhadap kripto. Menurutnya, perubahan peringkat lebih perlu dilihat dalam konteks dinamika adopsi, pertumbuhan pengguna, serta perkembangan pasar kripto di negara-negara lain yang juga terus mengalami perubahan.

“Peringkat ini penting sebagai benchmark global, tetapi jangan dibaca seperti rapor tunggal industri. Di dalam negeri kita justru melihat jumlah pengguna masih bertambah cukup kuat. Pertanyaan yang lebih relevan sekarang adalah seberapa aktif pengguna tersebut, berapa besar likuiditas yang berputar, dan apakah mereka menemukan produk serta utilitas yang membuat mereka bertahan di ekosistem,” ujar Yudho.

Perbandingan ranking antar-tahun juga perlu dilakukan secara hati-hati. Chainalysis menggunakan metodologi baru pada edisi 2026 dengan empat indikator utama, yaitu aliran dana melalui layanan kripto, aktivitas P2P domestik, aliran lintas negara, serta saldo aset on-chain. Periode pengukuran mencakup Juli 2025 hingga Juni 2026.

Pengguna Naik, Uang yang Berputar Justru Turun

Di dalam negeri, data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan jumlah akun konsumen aset kripto mencapai 22,93 juta pada Juli 2026, meningkat 1,03% dari 22,69 juta akun pada Juni. Jika dibandingkan dengan Juli 2025 yang masih sekitar 16,50 juta akun, basis pengguna bertambah sekitar 39% dalam setahun.

Namun tren transaksi bergerak ke arah sebaliknya.

Nilai transaksi aset kripto pada Juli 2026 tercatat hanya Rp20,52 triliun, turun 28,2% dibandingkan Rp28,58 triliun pada Juni. Jika dibandingkan dengan Juli 2025 yang mencapai Rp52,46 triliun, nilai transaksi bulanan turun sekitar 60,9%.

Secara kumulatif, transaksi sepanjang Januari-Juli 2026 tercatat sekitar Rp171,12 triliun, lebih rendah dibandingkan Rp276,45 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Menurut Yudho, data tersebut menggambarkan perubahan yang cukup fundamental dalam perilaku pengguna kripto Indonesia.

“Kita sekarang punya lebih banyak orang yang mengenal dan memiliki akses ke kripto, tetapi nominal dan frekuensi transaksinya belum tentu ikut naik. Jadi tantangan industri sudah bergeser. Bukan hanya bagaimana mendapatkan user baru, melainkan bagaimana mengubah user menjadi partisipan yang aktif dan berkelanjutan,” jelasnya.

Ia menilai kondisi ekonomi, volatilitas pasar global, serta kecenderungan investor menjadi lebih selektif turut memengaruhi aktivitas transaksi domestik.

“Pengguna saat ini cenderung lebih hati-hati. Mereka tidak otomatis meninggalkan pasar, tetapi lebih selektif menentukan kapan masuk, berapa besar dana yang dialokasikan, dan produk apa yang digunakan,” tambah Yudho.

Ranking Turun di Tengah Pasar Global yang Bertahan

Menariknya, laporan Chainalysis menunjukkan pelemahan harga tidak serta-merta membuat aktivitas kripto dunia menghilang.

Sepanjang periode pengukuran, kapitalisasi pasar kripto global sempat menyusut sekitar 50% atau sekitar US$2,1 triliun. Namun, aktivitas ekonomi on-chain secara global hanya mengalami penurunan sekitar 1,6%, dari US$9,5 triliun menjadi US$9,4 triliun. Chainalysis menilai, semakin beragamnya penggunaan aset kripto membuat aktivitas on-chain tetap relatif bertahan, meski pasar sedang berada dalam periode bearish.

Bagi Yudho, tren tersebut menjadi pesan penting bagi industri Indonesia. Pertumbuhan ke depan tidak bisa terlalu bergantung pada kenaikan harga aset dan aktivitas trading spot semata.

“Pasar global menunjukkan bahwa ekosistem kripto semakin luas. Aktivitas tidak lagi hanya ditentukan oleh orang membeli Bitcoin atau altcoin untuk menunggu harga naik. Ada stablecoin, tokenisasi aset, derivatif, layanan institusi, hingga berbagai aktivitas berbasis blockchain lainnya,” katanya.

Industri RI Mulai Masuk Fase Baru

Dari sisi infrastruktur, industri aset digital Indonesia sebenarnya terus berkembang.

Per Juli 2026, ekosistem domestik telah ditopang oleh dua bursa aset keuangan digital, dua lembaga kliring, dua pengelola tempat penyimpanan, dan 26 pedagang aset keuangan digital berizin.

Ruang inovasi juga semakin luas. Sejumlah model bisnis telah melewati regulatory sandbox OJK, termasuk tokenisasi emas, tokenisasi surat berharga, tokenisasi manfaat kepemilikan properti, stablecoin Rupiah, kustodian aset digital non-perdagangan, hingga manajer dana kripto.

Menurut Yudho, perkembangan ini dapat menjadi fondasi agar fase pertumbuhan industri berikutnya tidak hanya mengandalkan jumlah akun baru.

“Kalau fase pertama industri adalah memperbesar awareness dan akses, fase berikutnya adalah memperdalam pasar. Kita membutuhkan variasi produk, likuiditas yang lebih baik, edukasi yang lebih relevan, serta use case yang membuat masyarakat melihat aset digital bukan sekadar instrumen spekulasi jangka pendek,” tutur Yudho.

Ia juga menyoroti posisi Indonesia yang masih berada di peringkat ke-10 dunia untuk aktivitas kripto lintas negara dalam indeks Chainalysis 2026. Menurutnya, posisi tersebut menunjukkan Indonesia tetap memiliki keterhubungan yang kuat dengan ekosistem aset digital global.

“Indonesia masih memiliki modal yang besar: hampir 23 juta akun konsumen, infrastruktur regulasi yang semakin lengkap, dan pasar digital yang besar. Penurunan ranking seharusnya menjadi momentum evaluasi untuk meningkatkan kualitas adopsi, bukan sekadar mengejar posisi di tabel,” katanya.

CEO FLOQ menilai ukuran keberhasilan industri ke depan perlu diperluas. Bukan hanya jumlah pengguna baru, tetapi juga tingkat pengguna aktif, kedalaman likuiditas, keberagaman produk, serta kemampuan industri domestik mempertahankan aktivitas transaksi di dalam ekosistem yang berizin.

“Kalau jumlah pengguna terus tumbuh dan pada saat yang sama kita mampu meningkatkan aktivitas, literasi, serta pilihan produknya, Indonesia masih punya peluang besar untuk kembali memperkuat posisinya dalam industri aset digital global,” pungkas Yudho.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Mandar News

See author's posts

Like this:

Like Loading...

Post navigation

Previous: Igloo dan DANA Luncurkan Perlindungan Hujan Parametrik All-in-One Pertama di Industri untuk Masyarakat Indonesia
Next: Nvidia Siapkan Buyback US$150 Miliar, Terbesar dalam Sejarah

Related Stories

codeimg-560
  • Sosial Ekobis

ITSEC Asia (IDX: CYBR) Ungkap Pola Ransomware yang Berkembang Sebelum Enkripsi Dimulai

Mandar News 29/09/2026
codeimg-561
  • Sosial Ekobis

16ᵗʰ UOB Painting Of The Year Hadir Kembali di ASHTA

Mandar News 29/09/2026
codeimg-559
  • Sosial Ekobis

PTPN Group melalui PTPN IV PalmCo Perkuat Kemitraan Strategis dengan Petani melalui PSR Awards 2026

Mandar News 29/09/2026
Pengganti Iklan Kosong
IKLAN
IKLAN

OBITUARI

Dinas Perumahan Rakyat Mateng

Awo (50) Bangkit (59) Bawaslu Majene (58) Berita Majene (49) Berita Mamasa (68) Berita Mandar (83) Bupati Majene (40) corona (76) covid 19 (247) DPRD Majene (40) gempa sulbar (48) Indonesia (56) Kebakaran (47) Kodim 1401 majene (111) KPU Majene (104) KPU Mamasa (45) KSP (260) lawan Covid-19 (93) Longsor (43) Mahasiswa (40) majene (1388) Malunda (50) mamasa (451) mamuju (251) mandar (224) Mari Vaksin (61) Moeldoko (79) pemilu (44) Pemilu 2019 (71) Pemilu 2024 (46) pemkab majene (115) pemprov sulbar (63) polda sulbar (130) polewali mandar (53) polman (271) polres majene (367) polres mamasa (62) Presiden (40) Sendana (58) Sosialisasi (51) sulawesi barat (91) sulbar (1402) TMMD (56) Unsulbar (70) Vaksin (41)

  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Pedoman Media Siber
  • facebook
  • twitter
  • instagram.com
  • youtube
  • whatsapp
Copyright © All rights reserved. | MoreNews by AF themes.
 

Loading Comments...
 

    %d