Gambar ilustrasi.
Mamasa, mandarnews.com – Pelayanan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Mamasa menuai sorotan dari warga menyusul keluhan mengenai ketidaklancaran distribusi air bersih serta dugaan tindakan kontroversial oleh oknum petugas penagihan di lapangan.
Kekecewaan tersebut mencuat setelah seorang warga mengaku didatangi petugas yang mengaku sebagai penagih lapangan pada Senin siang (12/10/2026) sekitar pukul 14.15 WITA.
Dalam kunjungan tersebut, petugas disebut meminta pelunasan tunggakan tagihan air sebesar Rp800 ribu dan mengancam akan melakukan penutupan sambungan air apabila tunggakan tidak segera dibayarkan.
Warga juga mengaku diminta membayar sebesar Rp29 ribu apabila tidak ingin sambungan air ke rumahnya ditutup.
Pernyataan tersebut menimbulkan tanda tanya di kalangan warga, terutama terkait dasar penagihan dan mekanisme penutupan sambungan air.
Salah seorang warga di Kota Mamasa yang tidak ingin identitasnya diungkapkan mengaku kecewa terhadap cara penagihan yang dinilai mendadak, terlebih ketika pelayanan distribusi air bersih yang diterimanya jauh dari harapan.
“Kami sangat kecewa karena didatangi dan ditagih dengan jumlah yang lumayan besar, sementara air PDAM paling hanya sekali seminggu mengalir ke rumah kami,” ungkap warga tersebut saat dikonfirmasi media, Selasa (13/10/2026).
Warga itu juga mempertanyakan waktu kedatangan petugas yang bertepatan dengan mengalirnya air ke rumahnya. Menurut pengakuannya, air baru saja mengalir ketika petugas datang melakukan penagihan.
Kondisi tersebut memunculkan dugaan di kalangan warga bahwa aliran air yang muncul pada saat itu berkaitan dengan proses penagihan. Namun, dugaan tersebut masih memerlukan penjelasan dan verifikasi lebih lanjut dari pihak PDAM Mamasa.
“Kami juga merasa tertekan karena disebutkan bahwa jika belum membayar tagihan sebesar Rp800 ribu, kami harus membayar Rp29 ribu agar sambungan air ke rumah tidak ditutup,” terang warga.
Ia menilai, cara penyampaian penagihan tersebut membuat warga merasa tidak memiliki ruang untuk berdialog maupun mencari solusi atas persoalan yang dihadapi.
Menurut warga, persoalan ini bukan semata-mata mengenai kewajiban membayar tagihan, melainkan juga menyangkut kualitas pelayanan yang diterima pelanggan.
Warga berharap adanya keseimbangan antara kewajiban pelanggan untuk membayar rekening air dan tanggung jawab penyedia layanan dalam memastikan distribusi air bersih berjalan secara layak.
“Pernyataan seperti itu membuat kami kecewa dan geram. Kami merasa tidak diberi ruang atau kebijakan untuk mencari solusi. Seharusnya ada komunikasi yang baik antara petugas dan pelanggan,” imbuhnya.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak media masih dalam upaya menghubungi pihak PDAM Mamasa untuk menanggapi keluhan warga tersebut. (Yoris)
Editor: Ilma Amelia
