Ketua DPRD Polewali Mandar, Fahry Fadly (kedua dari kiri), saat rapat kerja bersama RSUD Andi Depu.
Polewali Mandar, mandarnews.com – Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Polewali Mandar, Fahry Fadly, mempertanyakan Standar Operasional Prosedur (SOP) pelayanan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Andi Depu terhadap warga yang tidak memiliki identitas.
“Karena tidak memiliki identitas, pasien tersebut sempat tidak terlalu dilayani karena menunggu dokumen identitas,” beber Fahry dalam rapat kerja Komisi IV DPRD Polewali Mandar di ruang rapat komisi, Selasa (28/7/2026).
Ia mengemukakan, pasien tersebut tidak memiliki Kartu Keluarga, Kartu Tanda Penduduk (KTP), maupun buku nikah karena orang tuanya juga tidak memiliki dokumen tersebut.
Sementara, lanjut Fahry, kepala desa bersedia bertanggungjawab bahwa orang tersebut merupakan masyarakat yang tinggal di desanya. Namun, meminta waktu untuk mengurus dokumen-dokumen kependudukannya.
“Bagaimana biasanya pihak rumah sakit menangani persoalan tersebut? Apakah ada kebijakan khusus?” tanya Fahry.
Dirinya mengungkapkan, kasus seperti ini cukup banyak terjadi. Masyarakat yang mengalami kondisi seperti ini tentu tidak menginginkan dirinya sakit, tetapi jangan sampai ketika sakit justru mendapatkan kendala dalam pelayanan karena persoalan administrasi.
Menjawab pertanyaan tersebut, Direktur RSUD Andi Depu, dr. Irwandi Muis, menguraikan kalau sesuai dengan SOP standar pelayanan UGD, sebenarnya rumah sakit wajib tetap memberikan pelayanan kepada pasien selama pasien tersebut masuk ke UGD.
“Pasien harus dilayani terlebih dahulu dengan mengabaikan persoalan administrasi. Pelayanan kesehatan harus tetap didahulukan,” ujar dr. Irwandi.
Berdasarkan pengalaman, imbuh dr. Irwandi, jika ada aparat desa yang mengakomodasi atau memberikan keterangan mengenai pasien tersebut, rumah sakit tetap melayani.
Namun, terkadang informasi yang disampaikan oleh staf berbeda. Dirinya pun mengaku akan menindaklanjuti persoalan tersebut jika sampai kepadanya.
“Beberapa kasus, misalnya kasus penikaman, tetap kami tangani dan kami lakukan operasi. Bahkan, ada beberapa pasien yang sampai sekarang kami tidak tahu apakah keluarganya akan membayar atau tidak,” tutup dr. Irwandi. (ilm)
