Foto bersama Tim Pemberdayaan Masyarakat Fapertahun Universitas Sulawesi Barat
Mamasa, mandarnews.com — Desa Tondok Bakaru yang terletak di bawah kaki Gunung Mambulilling dan menjadi pintu gerbang utama menuju Taman Nasional Gandang Dewata kini memasuki babak baru dalam pengembangan ekonomi hijau berbasis digital. Melalui program Pemberdayaan Berbasis Masyarakat (PBM) skema Pemberdayaan Masyarakat Pemula (PMP) BIMA dari Kemdiktisaintek, tim akademisi dari Fakultas Pertanian dan Kehutanan (Fapertahut) Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar) hadir mendampingi kelompok pemuda desa dalam mengakselerasi potensi wisata agroforestry dan sistem pangan lokal yang berkelanjutan, Jumat (31 Juli 2026) .
Program pemberdayaan bertajuk “Pemberdayaan Pemuda Desa Tondok Bakaru via Digitalisasi BMC untuk Akselerasi Pangan Berkelanjutan dan Pariwisata Agroforestry” ini merespons langsung tantangan kesenjangan hulu-hilir yang dihadapi masyarakat desa. Meskipun Desa Tondok Bakaru telah meraih prestasi nasional dalam Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI), potensi besar berupa perkebunan kopi, cengkeh, kuliner lokal, hingga konservasi anggrek endemik Mamasa selama ini masih terkendala manajemen usaha yang spontan dan promosi digital yang belum terintegrasi.
Inovasi Manajemen: Toolkit Digitalisasi UMKM Agroforestry
Untuk mengatasi tantangan tersebut, tim pengabdian mentransfer inovasi berupa Toolkit Digitalisasi UMKM Desa Wisata Agroforestry. Inovasi manajerial dan teknologi informasi ini dirancang khusus agar mudah diterapkan oleh para pemuda desa dalam mengelola unit usaha mereka secara profesional melalui empat pilar utama:
| Pilar Solusi | Bentuk Inovasi | Dampak & Target |
| Model Bisnis (BMC) | Template BMC Digital 9 Blok (Google Sheets/Spreadsheet) | Mengklarifikasi segmen pasar, nilai jual, & titik impas (BEP) |
| Manajemen Keuangan | Aplikasi Pencatatan Keuangan SIAPIK / Buku Kas Otomatis | Pemisahan uang pribadi & usaha, analisis laba rugi rutin |
| Digital Marketing | Optimasi IG, FB, WA Business & Google Business Profile | Jangkauan pasar nasional, katalog digital interaktif QR Code |
| Paket Integrated Tour | Standardisasi Layanan Wisata Sawah-Anggrek-Pinus-Kuliner | Peningkatan omzet usaha & kepuasan wisatawan >80% |
Tim Pengabdian Masyarakat Fapertahut
Kegiatan ini dipimpin dan dilaksanakan secara terpadu oleh dosen-dosen Fakultas Pertanian dan Kehutanan (Fapertahut): Ketua: Sahrul Salam, S.A.B., M.Si. (Dosen Agribisnis Fapertahut) dan anggota terdiri dari : Rizki Abdillah Tanjung, M.Si. (Dosen Agribisnis Fapertahut), Sri Ade Putra, M.Hut. (Dosen Kehutanan Fapertahut), Suhartono, S.Hut., M.Hut. (Dosen Kehutanan Fapertahut)
“Pemuda merupakan motor penggerak inovasi di desa wisata. Melalui digitalisasi Business Model Canvas dan penguatan digital marketing, kita tidak hanya merapikan manajemen internal usaha pemuda, tetapi juga menghubungkan keindahan alam, budaya, dan produk unggulan Tondok Bakaru langsung ke genggaman para wisatawan secara nasional.”
“Pemuda merupakan motor penggerak inovasi di desa wisata. Melalui digitalisasi Business Model Canvas dan penguatan digital marketing, kita tidak hanya merapikan manajemen internal usaha pemuda, tetapi juga menghubungkan keindahan alam, budaya, dan produk unggulan Tondok Bakaru langsung ke genggaman para wisatawan secara nasional.” Sahrul Salam, S.A.B., M.Si., Dosen Agribisnis Fapertahut / Ketua Tim Pengabdian
Dampak Sosial Ekonomi & Keberlanjutan Lingkungan
Pemberdayaan ini menyasar langsung kelompok pemuda produktif, termasuk Komunitas Tondok Bakaru Orchid (KTO) yang mengelola budidaya anggrek endemik, pengelola wisata Bukit Lenong, serta pelaku UMKM kuliner dan suvenir desa. Dengan pendampingan intensif, target peningkatan omzet usaha minimal 20% dan pembentukan kanal digital yang aktif dapat tercapai secara terukur.
Selain meningkatkan kesejahteraan ekonomi lokal, kami harap program ini dapat berkontribusi nyata pada pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 1 (Tanpa Kemiskinan), SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), serta SDG 15 (Ekosistem Daratan) melalui konservasi kawasan pegunungan Mamasa. (TPM Fapertahut Unsulbar)
