Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Bina Bangsa Majene hadir dalam hadir dalam penandatanganan MoU di Universitas Muhammadiyah Barru, Minggu (3/5/2026) di aula KH Ahmad Dahlan Universitas Muhammadiyah Barru.
Barru, mandarnews.com – Penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) di Universitas Muhammadiyah Barru membuka peluang baru bagi kampus daerah menembus jejaring global, di tengah keterbatasan sumber daya dan akses kolaborasi.
Kegiatan seminar dan penandatanganan MoU internasional ini digelar di Aula KH Ahmad Dahlan Universitas Muhammadiyah Barru, Minggu (3/5). Forum ini mempertemukan empat kampus dari kawasan Sulawesi dalam hal ini Sulawesi Selatan, Barat, dan Tenggara (SULTAN BATARA) dalam satu agenda kolaboratif.
Selain tuan rumah, hadir STIKES Bina Bangsa Majene, Universitas Muhammadiyah Bone, serta Institut Agama Islam Rawa Aopa Konawe dalam jejaring kerja sama lintas wilayah.
Kolaborasi ini terhubung melalui inisiatif BOLT (Balsamo Outreach for Learning and Teaching) yang mendorong kerja sama internasional berbasis riset, pertukaran akademik, dan penguatan kurikulum berbasis standar global.
Ketua STIKES Bina Bangsa Majene, Yulianah Sulaiman, menilai forum ini sebagai titik balik bagi kampus daerah yang selama ini terbatas akses internasional.
“Kesempatan ini membuka ruang baru. Kampus daerah tidak lagi sekadar penonton, tetapi mulai terlibat aktif dalam percakapan global pendidikan tinggi,” ujarnya dalam sambutan resmi.
Namun, di balik optimisme itu, realitas ketimpangan masih membayangi. Kampus daerah kerap menghadapi keterbatasan pendanaan, SDM, dan akses publikasi ilmiah internasional
MoU ini mencakup sejumlah program strategis, seperti joint research, publikasi ilmiah, visiting lecturer, hingga pengembangan kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE).
Implementasi program tersebut dinilai menjadi ujian nyata. Tanpa komitmen berkelanjutan, kerja sama semacam ini berpotensi berhenti pada seremoni formal tanpa dampak signifikan.
Pengamat pendidikan tinggi kawasan timur Indonesia menyebut, kolaborasi internasional sering kali belum diiringi kesiapan infrastruktur akademik yang memadai di tingkat lokal.
Di sisi lain, pemerintah terus mendorong internasionalisasi kampus sebagai indikator daya saing global. Namun, kebijakan ini dinilai belum sepenuhnya menyentuh kebutuhan riil kampus daerah.
Dalam konteks itu, langkah Universitas Muhammadiyah Barru menjadi relevan sebagai upaya menjembatani kesenjangan antara kampus pusat dan daerah.
Yulianah menegaskan komitmen institusinya untuk menjaga keberlanjutan kerja sama ini melalui implementasi nyata yang berdampak bagi mahasiswa dan masyarakat.
“Kerja sama ini harus menghasilkan perubahan konkret, bukan sekadar dokumen administratif,” tegasnya.
Forum ini diharapkan melahirkan model kolaborasi baru yang lebih inklusif, sekaligus menguji sejauh mana kampus daerah mampu bertahan dan berkembang dalam ekosistem global. (Ptr/rls)
